Bank BUMN Berperan Penting dalam Stabilitas Ekonomi NTT Pascagempa

Gempa bumi dengan magnitude 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada tanggal 15 Agustus 2026, tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik yang signifikan dan korban jiwa, tetapi juga mengguncang aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai wilayah yang terdampak. Dalam situasi darurat seperti ini, keberadaan institusi perbankan menjadi sangat krusial. Bank harus memastikan masyarakat tetap dapat mengakses uang, melakukan transaksi, menerima bantuan, dan melanjutkan kegiatan usaha mereka. Dengan demikian, peran bank BUMN di NTT sangat vital dalam menjaga stabilitas ekonomi pascagempa.
Peran Vital Bank BUMN dalam Pemulihan Ekonomi
Ketersediaan layanan keuangan bagi masyarakat di wilayah terdampak bencana bukan hanya masalah transaksi semata. Saat kantor cabang mengalami kerusakan, jaringan listrik terganggu, atau akses jalan terputus, masyarakat tetap memerlukan uang untuk membeli makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Oleh karena itu, keberlangsungan sistem pembayaran menjadi elemen penting dalam proses pemulihan ekonomi setelah bencana.
Langkah-langkah yang diambil oleh bank BUMN menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga operasional layanan dan memberikan bantuan kemanusiaan. Misalnya, BNI berkomitmen untuk memastikan layanan perbankan tetap berjalan di daerah yang terkena dampak gempa, meskipun salah satu kantor cabangnya terpaksa ditutup sementara akibat kerusakan yang parah. Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menekankan bahwa keselamatan pegawai dan nasabah adalah prioritas utama. Dari total 25 outlet BNI yang berada di area Ende dan Maumere, sebanyak 24 outlet tetap beroperasi. Sementara itu, KCP Borong ditutup sementara karena mengalami keretakan pada bangunan.
Inovasi Layanan dalam Situasi Darurat
Untuk menjaga akses layanan keuangan, BNI menyediakan O-Branch, yakni layanan bergerak yang menjadi alternatif transaksi bagi masyarakat terdampak. Okki menjelaskan, “Dengan dukungan jaringan kantor, O-Branch, serta kanal elektronik dan digital, kami memastikan kebutuhan layanan perbankan masyarakat tetap dapat terlayani selama proses pemulihan.” Ini menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, bank harus lebih dari sekadar mempertahankan kantor fisik; mereka juga harus memastikan masyarakat memiliki akses alternatif untuk layanan keuangan.
Hal serupa juga dilakukan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI). Bank ini telah mempersiapkan mitigasi agar layanan perbankan tetap dapat diakses oleh masyarakat melalui aplikasi BRImo dan jaringan agen BRILink yang tersebar. Di samping itu, BRI juga melaksanakan pengamanan aset serta melakukan asesmen terhadap kondisi bangunan dan fasilitas operasional di wilayah yang mengalami dampak. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa keselamatan nasabah dan pekerja adalah prioritas utama mereka.
Komitmen Sosial Bank dalam Menyalurkan Bantuan
Selain memastikan akses transaksi, BRI juga memperluas peran mereka dalam bantuan kemanusiaan. Mereka telah mendirikan tiga posko logistik di Manggarai Barat, Ngada, dan Nagekeo, serta satu dapur umum di Nagekeo. Bantuan yang disalurkan mencakup makanan, obat-obatan, sembako, air bersih, tenda, terpal, selimut, lampu darurat, perlengkapan mandi, dan kebutuhan bayi. Semua upaya ini menunjukkan bahwa bank tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan sosial yang mendukung masyarakat dalam masa-masa sulit.
Peran Bank Mandiri dalam Tanggap Darurat
Bank Mandiri juga turut berkontribusi melalui program Mandiri Peduli Gempa NTT. Mereka tidak hanya menyalurkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak, tetapi juga berusaha memastikan layanan perbankan tetap berjalan. Alexander Jonathan Patty, Regional CEO Region XI Bank Mandiri, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kepedulian dan sinergi di antara berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terkena dampak.
Bank Mandiri bekerja sama dengan pemerintah daerah di NTT, NTB, dan Bali melalui program Mandiri Peduli. Selain itu, mereka mengerahkan puluhan relawan untuk membantu distribusi bantuan dan logistik kepada korban gempa. Alexander menilai bahwa semangat gotong royong sangat penting untuk memastikan bantuan dapat sampai kepada masyarakat selama masa tanggap darurat.
Strategi Keuangan dalam Menghadapi Bencana
Dari sudut pandang kebencanaan, pentingnya menjaga akses ekonomi pascagempa tidak terlepas dari kondisi geografis Flores yang menyulitkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat adanya daerah yang sulit dijangkau kendaraan karena berada di kawasan perbukitan. Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa pemetaan udara dilakukan untuk menentukan jalur distribusi bantuan dan titik yang memungkinkan untuk penurunan logistik melalui helikopter. Dalam konteks ini, sistem keuangan digital dan jaringan agen perbankan menjadi sangat strategis.
Ketika kantor cabang atau ATM tidak dapat diakses, transaksi melalui aplikasi dan agen perbankan dapat menjadi solusi alternatif bagi masyarakat, asalkan jaringan komunikasi dan infrastruktur pendukung masih tersedia. Dengan demikian, keberlanjutan layanan keuangan sangat penting untuk memastikan roda ekonomi tetap bergerak setelah bencana terjadi.
Dukungan Pemerintah dalam Penanganan Bencana
Pemerintah Provinsi NTT juga terus menggerakkan bantuan dan dana tanggap darurat. Hingga 18 Agustus 2026, dana penampungan bantuan bencana yang dihimpun Pemprov NTT mencapai sekitar Rp4,36 miliar. Pemerintah daerah berupaya menyalurkan bantuan logistik melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat menjadi prioritas utama. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan pentingnya dukungan bagi masyarakat yang terdampak, termasuk kelompok rentan.
Pemprov NTT menjalankan kebijakan pemenuhan kebutuhan makanan, minuman, tenda, dan selimut dengan mekanisme yang mempercepat pemenuhan kebutuhan warga, sekaligus menjaga aktivitas ekonomi di tingkat kios masyarakat. Di tingkat nasional, Presiden Prabowo Subianto telah mengalokasikan bantuan kemanusiaan sebesar Rp200 miliar untuk penanganan gempa NTT. Dana tersebut terdiri atas Rp40 miliar untuk Pemerintah Provinsi NTT dan masing-masing Rp20 miliar untuk delapan kabupaten yang terdampak di Pulau Flores.
Membangun Ketahanan Ekonomi Pascabencana
Kepala BNPB, Suharyanto, memastikan bahwa bantuan Rp20 miliar untuk setiap kabupaten telah diterima pemerintah daerah dan harus digunakan khusus untuk penanganan bencana. Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya bagi pemerintah daerah untuk memiliki cadangan logistik guna menghadapi keadaan darurat di masa mendatang. “Para bupati dan gubernur seharusnya memiliki lumbung-lumbung cadangan,” ujar Prabowo dalam rapat penanganan bencana di Nagekeo. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascagempa memerlukan lebih dari sekadar bantuan sesaat; penguatan ketahanan daerah terhadap bencana di masa yang akan datang juga sangat diperlukan.
Pada akhirnya, peran bank dalam situasi gempa NTT mencakup dua aspek yang sama pentingnya. Pertama, bank harus memastikan masyarakat tetap bisa melakukan transaksi dan mengakses dana saat aktivitas ekonomi terganggu. Kedua, bank BUMN memiliki kapasitas untuk menjadi bagian dari jaringan bantuan nasional melalui distribusi logistik, posko, relawan, dan dukungan pemulihan masyarakat. Dengan layanan keuangan yang berjalan, bantuan pemerintah dan dunia usaha dapat disalurkan dengan lebih efektif, memberikan masyarakat peluang lebih besar untuk kembali menjalankan aktivitas ekonominya.
Menjaga mesin perbankan tetap berfungsi di tengah bencana bukan hanya soal menjaga bisnis bank, tetapi juga menjaga denyut ekonomi masyarakat agar tidak terhenti. Dalam konteks ini, perbankan dan lembaga keuangan memiliki peran strategis yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
➡️ Baca Juga: Kepala IEA: Krisis Selat Hormuz Memicu Ancaman Besar bagi Ekonomi Global
➡️ Baca Juga: 7 Alasan Mengapa ASUS Zenbook A14 Menjadi Laptop AI Terbaik di Tahun 2026




