Siswa Terbaik Matematika di Asia: China Menduduki Peringkat Teratas

Jakarta – Kemampuan matematika siswa di seluruh dunia kembali diukur melalui Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Laporan yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2026 menunjukkan bahwa dominasi Asia di bidang pendidikan, khususnya matematika, tetap kuat. Dalam PISA 2025, lebih dari 760 ribu siswa berusia 15 tahun dari 91 negara dan ekonomi berpartisipasi, mewakili sekitar 33 juta anak. Penilaian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam situasi kehidupan nyata. Di tengah penurunan rata-rata skor matematika global yang kini berada di angka 463 poin, negara-negara Asia menunjukkan performa yang mengesankan. Hal ini memicu rasa ingin tahu tentang siapa saja yang menduduki peringkat teratas di kawasan ini. Mari kita lihat daftar negara dengan siswa terbaik matematika di Asia.
Negara-Negara dengan Siswa Terbaik Matematika di Asia
Berdasarkan data dari OECD, berikut adalah sepuluh negara di Asia yang meraih skor tertinggi dalam penilaian matematika PISA 2025:
- China: 612 poin
- Singapura: 563 poin
- Makau: 549 poin
- Taiwan: 546 poin
- Jepang: 525 poin
- Korea Selatan: 522 poin
- Hong Kong: 522 poin
- Turkiye: 462 poin
- Uni Emirat Arab: 453 poin
- Vietnam: 443 poin
China: Pemimpin dalam Skor Matematika
Dengan skor tertinggi mencapai 612 poin, China menduduki posisi teratas dalam penilaian matematika. Namun, penting untuk dicatat bahwa data yang diperoleh berasal dari empat wilayah, yaitu Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang, yang dikenal sebagai B-S-J-Z. Oleh karena itu, skor ini tidak merepresentasikan keseluruhan negara. Jarak antara China dan peringkat kedua, Singapura, cukup signifikan, dengan Singapura mencatat 563 poin. Selain di matematika, China juga memimpin dalam bidang sains dengan skor 597 poin, sementara Singapura unggul dalam membaca dengan 535 poin. OECD menilai bahwa sistem pendidikan di China dan Singapura termasuk yang terbaik di dunia dalam tiga bidang tersebut. Menariknya, lebih dari setengah siswa di China (sekitar 55,5 persen) berhasil mencapai nilai tertinggi, sementara hanya 1,8 persen yang berada di bawah standar.
Singapura, Makau, dan Taiwan: Pesaing Kuat
Singapura, menempati peringkat kedua di Asia dengan skor 563 poin, diikuti oleh Makau dengan 549 poin dan Taiwan dengan 546 poin. Perbedaan skor antara Makau dan Taiwan sangat tipis, hanya terpaut tiga poin. Jepang berada di urutan kelima dengan 525 poin, sedangkan Korea Selatan dan Hong Kong berbagi posisi keenam dengan skor 522 poin. Seluruh negara dalam daftar ini menunjukkan keunggulan dalam sistem pendidikan mereka, terutama dalam bidang matematika, dan sebagian besar berasal dari kawasan Asia Timur.
Tren Peningkatan dan Penurunan Skor
Walaupun Asia masih mendominasi, banyak negara di kawasan ini mengalami penurunan skor dibandingkan dengan hasil PISA 2022. Hong Kong mencatat penurunan terbesar, yaitu 19 poin, diikuti oleh Singapura yang turun 12 poin, Jepang 10 poin, Korea Selatan 5 poin, Makau 3 poin, dan Taiwan hanya 1 poin. Meskipun demikian, China tidak memiliki data yang dapat dibandingkan untuk tren ini. Secara global, rata-rata skor matematika negara-negara OECD pada tahun 2025 adalah 463 poin, menunjukkan penurunan 9 poin dari tahun 2022 dan penurunan 22 poin dibandingkan dengan tahun 2015, yang setara dengan kehilangan lebih dari satu tahun pembelajaran. Penurunan skor ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sayangnya, Indonesia tidak termasuk dalam sepuluh besar negara di Asia dalam hal matematika. Rata-rata skor matematika siswa Indonesia dalam PISA 2025 tercatat 364 poin, yang berarti 99 poin di bawah rata-rata OECD yang mencapai 463 poin. Skor ini mengalami penurunan sebesar 2 poin dibandingkan dengan PISA 2022. Meskipun penurunan ini lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata penurunan negara-negara OECD, tetap menjadi tantangan bagi pendidikan di Indonesia untuk meningkatkan kemampuan matematika siswa. Namun, hasil di bidang membaca menunjukkan perkembangan yang lebih baik, dengan skor sains naik 6 poin menjadi 389 dan skor membaca naik 7 poin menjadi 365.
Pendidikan Matematika dan Masa Depan Siswa di Asia
Fokus pada pendidikan matematika di negara-negara Asia menunjukkan betapa pentingnya penguasaan keterampilan ini untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan di dunia nyata. Negara-negara seperti China dan Singapura telah menetapkan standar tinggi dalam pembelajaran matematika, yang berkontribusi pada hasil luar biasa dalam penilaian PISA. Dengan sistem pendidikan yang terstruktur dan inovatif, kedua negara tersebut telah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan kemampuan siswa.
Faktor-faktor Penentu Kesuksesan
Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi pada kesuksesan siswa di bidang matematika, di antaranya:
- Kurikulum yang Kuat: Negara-negara dengan kurikulum yang dirancang secara khusus untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa cenderung memiliki hasil yang lebih baik.
- Pelatihan Guru: Kualitas pengajaran sangat bergantung pada pelatihan guru. Guru yang terampil dan terlatih dapat menginspirasi siswa dan membimbing mereka mencapai potensi penuh mereka.
- Penggunaan Teknologi: Integrasi teknologi dalam pembelajaran matematika membantu siswa memahami konsep dengan lebih baik dan membuat pembelajaran lebih menarik.
- Fasilitas Pendidikan: Akses ke fasilitas pendidikan yang memadai, seperti laboratorium dan perpustakaan, juga berperan penting dalam mendukung proses belajar siswa.
- Budaya Belajar: Budaya yang menghargai pendidikan dan mendorong siswa untuk berprestasi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar mereka.
Menghadapi Tantangan di Masa Depan
Kendati negara-negara Asia, khususnya China dan Singapura, menunjukkan keunggulan dalam matematika, tantangan tetap ada. Penurunan skor yang dialami beberapa negara menunjukkan perlunya evaluasi terhadap metode pengajaran dan kurikulum yang diterapkan. Untuk mempertahankan posisi teratas di kancah global, penting bagi negara-negara ini untuk terus berinovasi dalam sistem pendidikan mereka.
Di sisi lain, Indonesia juga harus mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika. Hal ini meliputi pengembangan kurikulum yang lebih relevan, peningkatan kualitas pelatihan guru, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Dengan upaya yang tepat, diharapkan siswa Indonesia dapat bersaing di tingkat internasional dan mengatasi tantangan yang ada.
Dengan perkembangan yang terjadi dalam pendidikan di Asia, kita dapat berharap bahwa siswa di kawasan ini akan terus berkembang dan berprestasi dalam bidang matematika. Melalui pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan, negara-negara di Asia dapat memperkuat posisi mereka sebagai pemimpin dalam pendidikan global.
➡️ Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Sabtu (18/4): UBS Rp2.902.000, Antam Rp2.983.000, Galeri24 Rp2.873.000 per Gram
➡️ Baca Juga: Tindakan Gotong Royong Menurunkan Jumlah Titik Api di Kubu Raya Secara Signifikan




