Jonet Tingkatkan Sistem Komunikasi dan Peringatan Dini Bencana di Yogyakarta

Yogyakarta, sebagai salah satu kota yang rentan terhadap bencana, terus berupaya memperkuat sistem komunikasi dalam menghadapi situasi darurat. Dalam upaya ini, Pemerintah Kota Yogyakarta meluncurkan Jogja Connect, atau Jonet, sebagai jaringan komunikasi bencana yang inovatif. Peluncuran sistem ini dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta dalam rangka apel siaga Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Kantor Kemantren Kotagede pada 1 Oktober 2026. Jonet bertujuan untuk mengintegrasikan berbagai saluran informasi agar dapat memberikan peringatan dini yang lebih cepat dan efektif ketika bencana terjadi.
Integrasi Komunikasi untuk Peringatan Dini
Jonet dirancang khusus untuk menghubungkan berbagai kanal komunikasi, baik yang berbasis digital maupun manual. Dengan adanya sistem ini, diharapkan penyampaian informasi yang berkaitan dengan peringatan dini dapat dilakukan dengan lebih efisien. Selain itu, Jonet juga berfungsi untuk meningkatkan koordinasi data di tengah situasi bencana.
Inisiatif Bulan Pengurangan Risiko Bencana
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menekankan bahwa rangkaian kegiatan Bulan PRB ini bertujuan untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah. Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada apel siaga dan peluncuran Jonet, tetapi juga mencakup review Kampung Tangguh Bencana (KTB), pelatihan mitigasi, serta simulasi komunikasi sistem peringatan dini (EWS) untuk banjir. Selain itu, terdapat juga simulasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang dilakukan secara gabungan dengan organisasi perangkat daerah terkait.
Edukasi Kebencanaan Melalui Jonet
“Bulan PRB diisi dengan berbagai kegiatan edukasi terkait kebencanaan dan kesiapsiagaan,” ujar Nur Hidayat setelah apel siaga. Menurutnya, Jonet merupakan sarana untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kebencanaan, melalui berbagai sumber informasi dan jaringan komunikasi yang ada.
Fitur-Fitur dalam Jonet
Dalam sistem Jonet terdapat beberapa fitur dan kegiatan yang saling terintegrasi, antara lain:
- Sistem Integrasi Alat Komunikasi Penanggulangan Bencana di Wilayah (Sigapil)
- Podcast Jonet
- Integrasi IP paging Pemkot Yogyakarta dengan komunikasi kegempaan BPBD
- Simulasi EWS secara serentak
Integrasi ini terutama difokuskan pada penggunaan radio rig melalui Sigapil di setiap wilayah kemantren. Setelah peluncuran Jonet, BPBD Kota Yogyakarta melakukan komunikasi melalui radio rig di Kemantren Kotagede sebagai langkah untuk memperkuat konektivitas dalam komunikasi kebencanaan.
Konektivitas Melalui Radio Rig
“Kami melakukan komunikasi lewat radio rig setiap hari dari pukul sembilan pagi hingga sembilan malam. Radio rig yang ada di setiap kemantren mempermudah komunikasi langsung dengan Linmas dan relawan, serta menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan ini, semua informasi terkait kebencanaan dapat tersampaikan secara langsung kepada individu masyarakat,” jelas Nur Hidayat. Ia menambahkan bahwa semua jaringan komunikasi antar organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Yogyakarta juga diberikan edukasi mengenai bencana dan peringatan dini.
Pemanfaatan Kentongan sebagai Alat Peringatan
Selain teknologi komunikasi modern, BPBD Kota Yogyakarta juga kembali mendorong penggunaan kentongan sebagai sistem peringatan dini yang lebih tradisional. Dalam apel siaga tersebut, peserta melakukan simulasi pemukulan kentongan dengan pola tertentu yang memiliki arti peringatan yang berbeda-beda.
Keunggulan Kentongan dalam Situasi Darurat
Nur Hidayat menjelaskan, kentongan dapat menjadi alternatif efektif ketika alat komunikasi modern tidak berfungsi, misalnya saat jaringan listrik dan radio terganggu akibat bencana. Oleh karena itu, keberadaan kentongan di pos ronda perlu dioptimalkan sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan masyarakat.
Membangun Kesadaran Masyarakat
“Kentongan sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita, dan setiap pos ronda seharusnya memiliki alat ini. Kami ingin mendorong masyarakat untuk memanfaatkan kentongan dengan baik dan membudayakannya, karena alat ini dekat dengan kehidupan sehari-hari dan sederhana,” tambah Nur.
Respon Positif dari Masyarakat
Peserta apel siaga dari KTB Sindurejan, Kelurahan Patangpuluhan, yakni Antok, memberikan tanggapan positif terhadap penguatan sistem komunikasi bencana yang diinisiasi ini. Ia juga mendukung upaya untuk mengaktifkan kembali kentongan sebagai alat peringatan dini di lingkungan masyarakat.
Pentingnya Pemahaman Pola Pukulan Kentongan
Antok mencatat bahwa penggunaan kentongan dalam kegiatan ronda kini semakin jarang dilakukan. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya masyarakat untuk memahami pola pukulan kentongan dan arti dari masing-masing tanda, agar bisa digunakan dengan tepat dalam situasi darurat.
Revitalisasi Tradisi untuk Keamanan Bersama
“Saat ini, setiap pos ronda sudah dilengkapi dengan tanda-tanda pukulan kentongan yang berbeda. Jika kita bisa mengaktifkan kembali penggunaan kentongan, ini akan sangat bermanfaat. Dalam keadaan darurat, ketika semua fasilitas modern tidak berfungsi, kentongan dapat menjadi harapan untuk menyampaikan pesan peringatan,” tutup Antok.
➡️ Baca Juga: Keterampilan Analisis Masalah yang Menciptakan Solusi Berharga untuk Bisnis Digital Modern
➡️ Baca Juga: Srikandi PLN Perkenalkan Dunia Energi kepada Generasi Muda Melalui Program Goes to School & Campus




