Arsip Tag: stres

Mirip Serangan Jantung, Kenapa GERD Kerap Kambuh di Malam Hari?

Jakarta –

GERD (gastroesophageal reflux disease) dan serangan jantung memiliki gejala serupa, keduanya bisa memicu nyeri dada. Gejala ini seringkali muncul bersamaan, yakni saat tidur malam.

Meski disebabkan oleh peningkatan asam lambung, GERD ditandai dengan rasa nyeri yang muncul bukan di perut, melainkan di sekitar dada atau ulu hati. Kondisi ini terjadi ketika cairan asam lambung naik atau mengalir kembali ke kerongkongan.

Konsultan Pencernaan Mayapada Hospital Jakarta Selatan Dr. Muhammed Yuko Hario Shakti Dua, SpPD-KGEH menjelaskan, banyak faktor yang meningkatkan risiko naiknya asam lambung. Faktor tersebut antara lain asupan makanan dan minuman.

“Kopi dan coklat sering menyebabkan GERD,” kata dr Hario dalam perbincangan dengan detikcom baru-baru ini.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah berat badan. Kelebihan berat badan meningkatkan risiko naiknya asam lambung karena kurangnya aktivitas fisik.

Seringkali gejala yang terlihat pada GERD tidak spesifik, seperti batuk terus-menerus. GERD seringkali menimbulkan kepanikan karena gejalanya mirip dengan penyakit jantung, seperti nyeri dada dan sering muncul pada malam hari, karena berbaring saat tidur meningkatkan risiko terjadinya refluks.

“Saat tidur, asam lambung mudah naik. Refluks terjadi saat berbaring. Kuncinya setelah makan, jangan langsung berbaring, harus duduk,” jelas dr Hario.

(atas/atas)

Soal Pemilu, Psikiater: Dukung Sewajarnya Saja, Supaya Kalau Kalah tidak Sakit Jiwa

Kaurama, JAKARTA – Sehari lagi masyarakat Indonesia akan mengikuti pemilu 2024. Perhelatan politik lima tahunan ini akan menentukan calon presiden dan wakil presiden serta calon legislatif. Dibalik kemeriahan pemilu, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui dan salah satunya adalah masalah kesehatan mental.

Mengingat pemilu sebelumnya, partai-partai berisiko mengalami stres pasca pemilu dan masalah kesehatan mental. Misalnya melalui penyelenggara pemilu seperti PPK, PPS, KPPS yang kelelahan dan kesehatan fisik dan mentalnya menurun, hingga partai-partai sukses dan masyarakat yang gagal dan berada dalam tekanan yang terlalu fanatik terhadap calon tertentu.

“Bukan hal yang aneh jika terjadi konflik keluarga, maupun konflik persahabatan, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Perlu adanya kerja sama untuk menjaga kesehatan mental selama proses seleksi,” kata Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor , psikiater Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Jiwa, menghubungi dr Lahargo Kembaren, Kaurama, Rabu (7/02/2024).

Stres dan masalah kesehatan mental dapat mempengaruhi semua orang setelah pemilu. Stres bukanlah sesuatu yang terjadi pada diri seseorang, melainkan reaksi seseorang terhadap sesuatu yang terjadi, dan reaksi tersebut sebenarnya dapat diobati.

“Dalam pemilu seperti saat ini, kita harus mewaspadai tekanan yang dapat diberikan kepada pasangan calon, calon legislatif, partai sukses, keluarga, relawan, pendukung, atau masyarakat umum,” kata Dr. jelas Lahargo

Ia menjelaskan, ada dua jenis stres. Pertama, stres positif (juga disebut eustress) membuat Anda merasa lebih baik. Kedua, stres negatif (kesedihan) yang menimbulkan berbagai masalah psikologis yang mengganggu fungsi dan produktivitas.

Setiap orang akan memiliki respon stres yang berbeda-beda dalam menghadapi stresor yang muncul dalam hidupnya. Respon terhadap stres ini sebenarnya bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dan memastikan mereka siap menghadapi tantangan.

Saat stres, tubuh melepaskan hormon, seperti kortisol dan adrenalin, yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan kuat, meningkatkan aliran darah, mengencangkan otot, dan menstimulasi panca indera. Tujuannya untuk mempersiapkan tubuh menghadapi segala ancaman dan tantangan yang menantinya.

“Berkat ini, kaki kita lebih kuat saat presentasi, kita bisa lebih fokus belajar daripada menonton TV, dan berkat itu, kita bisa berlari lebih cepat saat bertanding. Jadi sebenarnya stres punya efek yang cukup baik dalam hidup kita,” kata dr Lahargo.

Tampaknya stres dapat menimbulkan dampak negatif jika terjadi dalam jumlah yang banyak dan dalam jangka waktu yang lama serta jika seseorang tidak mampu mengatasi stres tersebut dengan baik. Stres seringkali menimbulkan dampak negatif dan berujung pada masalah atau gangguan jiwa.

Dr Lahargo mengatakan bahwa ada banyak gejala stres dan mengenalinya berarti Anda harus segera mulai mengatasi stres untuk menghindari masalah emosional yang lebih serius:

1. Gejala kognitif:

A. Masalah memori

B.Kesulitan memperhatikan

C. membuat keputusan yang buruk

D. Lihatlah hanya dari sudut pandang negatif

Untuk saya. Perasaan cemas terhadap hal-hal yang terus datang

2. Gejala fisik:

A. Gatal atau nyeri di berbagai bagian tubuh

B. Diare atau sulit buang air besar

C. Mual dan pusing

D. Nyeri dada dan jantung berdebar

Untuk saya. Penurunan hasrat seksual

F. Jari-jari saya terasa dingin

3. Gejala kejiwaan:

A. Suasana hati gelisah

B. Mudah emosi, marah atau kesal

C. Gelisah, tidak bisa tenang

D. Merasa kesepian dan terisolasi

Untuk saya. Perasaan depresi, sedih, tidak bahagia

4. Gejala perilaku:

A. Nafsu makan meningkat atau menurun

B.Sulit tidur atau terlalu banyak tidur

C. Tidak mau bersosialisasi atau bergaul

D. Penundaan Pekerjaan dan Tanggung Jawab

Untuk saya. Alkohol, merokok, penggunaan narkoba untuk bersantai

F. Perilaku cemas seperti menggigit kuku, mondar-mandir, melihat ke kiri dan ke kanan

Sedangkan manajemen stres adalah cara seseorang menghadapi dan mengatasi stres. “Hal ini bisa dilakukan dengan teknik 4A,” kata Dr. Lahargo.

Apakah mereka?

1. menghindari (menghindari)

Jika memungkinkan, hindari sumber stres yang menyebabkan stres. Anda tidak perlu membaca atau mendengarkan berita-berita yang menegangkan, berita politik, penipuan dll. Lakukan diet sosial.

2. berubah (berubah)

Jika Anda tidak bisa menghindarinya, Anda bisa mencoba mengubahnya, coba libatkan orang lain untuk mengatasi stres yang Anda hadapi, tetapkan prioritas, delegasikan tugas. Jika Anda merasa stres akibat pemilu terlalu sering dan membebani, kurangi secara bertahap.

3. Beradaptasi (Beradaptasi)

Ketika pemicu stres tidak dapat dihindari atau diubah, Anda dapat menyesuaikan respons Anda terhadap pemicu stres tersebut ke arah yang lebih positif. Fokus pada aspek pekerjaan yang menarik dan menyenangkan.

4. Mengakui (mengakui)

Belajar menerima suatu keadaan dalam hidup, meski menyakitkan dan menyedihkan, adalah bagian hidup manusia yang penuh warna. Tariklah kesimpulan dari kejadian yang anda alami. Hidup tidak selalu kemenangan, kesuksesan, kebahagiaan, tetapi juga ada kegagalan, kekalahan dan kesedihan.

“Terimalah ketika kita kalah, melakukan kesalahan atau tidak mencapai hasil yang diharapkan. “Hari yang buruk tidak berarti kehidupan yang buruk. Berdirilah dan tatap masa depan,” kata Dr. Lahargo.

Ia menjelaskan bahwa ketika “tsunami” berita pemilu menerpa hidup Anda, Anda dapat memilih di antara dua sikap mental. Pertama, reaktif, yaitu sikap mental yang bercirikan respon yang cepat, menggairahkan, agresif terhadap situasi yang muncul sehingga menimbulkan kecemasan bahkan kepanikan.

Kedua, daya tanggap, yaitu sikap mental yang ditandai dengan sikap tenang, terukur, menemukan apa yang perlu dilakukan dan memberikan tanggapan yang tepat dan masuk akal. Ketika seseorang bereaksi alih-alih bereaksi, hal itu akan mempengaruhi kehidupan emosionalnya dan dapat menimbulkan kecemasan, agresi, emosi, kemarahan, dan akibat negatif.

Sementara itu, jika kita memilih pendekatan reaktif, kita akan menikmati hidup yang lebih tenang dan seimbang, kata Dr. Lahargo.

Dia menyerukan untuk menjaga kesehatan mental selama pemilu. “Tidak ada salahnya menjadi pendukung Presiden, Wakil Presiden, dan calon legislatif, lakukanlah dengan benar, jangan berlebihan. Lakukan dengan segenap hatimu, tapi jangan dengan segenap jiwamu. Sehingga jika tuanmu kalah kamu hanya terluka, bukan sakit jiwa. “Kesehatan mental Anda jauh lebih penting dibandingkan proses pemilu dan hasilnya,” jelasnya.

Gagal Jadi Caleg, Bagaimana Cara Terbaik untuk Obati Kekecewaan?

Kaurama, JAKARTA – Pemilu 2024 merupakan masa yang penuh tantangan bagi calon legislatif, termasuk pemilu. Selain itu, tidak semua calon legislatif merayakan kemenangannya.

Bagaimana jika Anda tidak dapat mencalonkan diri sebagai anggota parlemen? Depresi dan kecemasan pasca pemilu bisa menimpa Anda. Menurut Diki C. Pelupesi, psikolog sosial dari Universitas Indonesia, mengelola pikiran menjadi kunci bagi calon legislatif yang merasa cemas dan tertekan pasca pemilu.

Bisa dimulai seperti ya, misalnya pemahaman bahwa mengikuti suatu kompetisi, ya, ada peluang menang dan ada peluang kalah, itu contoh yang sedang kami kerjakan. Kendalikan pikiran kita,” kata Dickey saat dihubungi Antara, Jumat (16/2/2024).

Selanjutnya, cobalah berbicara dengan keluarga, teman, dan pendukung politik setelah pemilu. Menurut Dickey, hal tersebut dapat menghilangkan stres dan memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan.

Usahakan juga melakukan aktivitas yang menyenangkan dan menghilangkan stres. Berolahraga, bermeditasi, atau menikmati hobi dapat membantu menjaga kesehatan mental dan mengalihkan pikiran Anda dari rasa frustrasi.

Stres Meningkat, Gen Z dan Wanita Rentan Terkena Burnout

Kaurama, Jakarta – Di dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan saat ini, kelelahan adalah wabah yang menyerang banyak orang. Generasi muda, termasuk Gen Z dan perempuan, tidak kebal terhadap kelelahan.

Menurut laporan Forbes, burnout adalah kondisi pikiran yang menggambarkan perasaan lelah dan terjebak dalam pekerjaan yang tidak memiliki ruang untuk berkembang.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tingkat stres meningkat di seluruh dunia, dengan Gen Z dan perempuan menjadi kelompok yang paling rentan. Fenomena ini patut diwaspadai, karena burnout tidak hanya berdampak buruk pada pekerjaan dan kehidupan pribadi, namun juga kesehatan mental dan fisik.

Menurut studi terbaru yang dilakukan oleh Future Forum, stres di tempat kerja berada pada puncaknya hingga musim semi 2021. Lebih dari 40% dari 10.243 pekerja kantor penuh waktu dilaporkan menderita usia tua.

Angka ini menandai rekor baru sejak Future Forum mulai melacak penuaan terkait pekerjaan pada Mei 2021. Saat itu, 38% pekerja melaporkan penuaan, menurut CNBC.

Studi tersebut juga menemukan bahwa perempuan dan pekerja di bawah usia 30 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelelahan. Hampir setengah (48%) dari anak-anak berusia 18-29 tahun mengatakan mereka lelah, dibandingkan dengan 40% anak-anak berusia 30 tahun ke atas.

Perempuan (46%) juga melaporkan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki (37%).

Para ahli sepakat bahwa tekanan akibat COVID-19 dan ketidakpastian ekonomi saling terkait sehingga meningkatkan stres dan sikap apatis di antara kelompok-kelompok ini.

Stres kerja dapat disebabkan oleh banyak faktor berbeda. Budaya kerja yang tidak aman dan kompetitif dengan ekspektasi kerja yang tinggi menjadi faktor utama.

Saat ini, pekerjaan bukan hanya soal status dan pendapatan, tapi juga soal legitimasi, tujuan, dan pemenuhan diri. Dengan teknologi modern yang membuat kita tetap terhubung, batasan antara bekerja dan bersantai menjadi semakin kabur. Akibatnya pikiran kita terfokus pada pekerjaan sehingga menimbulkan stres kronis.

Generasi Z dan generasi muda Milenial yang memasuki dunia kerja pada saat krisis ekonomi global dan krisis ekonomi sedang mengalami stres dan frustrasi. Kekhawatiran terhadap inflasi, resesi dan konflik geopolitik, serta kurangnya kontrol dan stabilitas maskapai penerbangan, menjadi alasan utamanya.

Psikolog Debbie Sorensen menjelaskan bahwa generasi ini tumbuh di bawah tekanan untuk memenuhi standar yang tinggi, namun menghadapi lingkungan kerja yang kacau dengan peluang yang terbatas. Perubahan kebijakan kembali bekerja, PHK massal, dan pembekuan perekrutan memperburuk situasi dan mempercepat hilangnya pekerjaan.

Ketidakpastian dan kurangnya kendali terhadap karier membuat Gen Z dan Milenial merasa tidak aman dan tidak puas dengan pekerjaannya.

Burnout yang ditandai dengan kelelahan dan rasa terjebak dalam pekerjaan, mempunyai dampak yang signifikan tidak hanya pada individu tetapi juga pada organisasi.

Menurut studi Asana yang diterbitkan oleh Forbes, pekerja yang terkena dampak penuaan melaporkan semangat kerja yang lebih rendah (36%), partisipasi yang lebih sedikit (30%), lebih banyak kesalahan (27%) dan komunikasi yang negatif (25%).

Mereka juga lebih mungkin meninggalkan pekerjaannya (25%).

Hal ini menunjukkan bahwa burnout dapat mengakibatkan hilangnya karyawan yang berbakat, berkurangnya produktivitas, dan rendahnya semangat kerja dalam organisasi.

Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk mengambil tindakan proaktif untuk mencegah dan mengatasi kelelahan karyawan.

Penelitian Gallup menunjukkan bahwa perempuan mengalami tingkat pengangguran yang jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Sejak 2019, perbedaan ini meningkat dua kali lipat.

Ketidaksetaraan gender menjadi salah satu penyebabnya. Perempuan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk maju, sering kali hanya menjadi kepala rumah tangga, dan harus melakukan pekerjaan tidak berbayar. Hal ini menambah kelelahan yang mereka alami.

Psikolog Debbie Sorensen mengatakan: “Pekerjaan perempuan pada umumnya bergaji rendah, dan banyak di antaranya, seperti pekerjaan di bidang kesehatan dan perawatan lansia, menjadi ‘sangat menjengkelkan’ karena epidemi ini.” Ta.

Meningkatnya krisis pengasuhan anak merupakan faktor lain yang meningkatkan stres dan frustrasi pada perempuan.

“Kurangnya layanan penitipan anak yang terjangkau menyebabkan lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki yang meninggalkan atau berganti pekerjaan,” kata Brian Elliott, CEO Future Forum.

Selain itu, dampak epidemi juga dirasakan oleh perempuan. Butuh waktu tiga tahun bagi perempuan untuk pulih dari kehilangan pekerjaan akibat epidemi ini, dibandingkan dengan waktu kurang dari dua tahun bagi laki-laki.

“Saya tidak punya waktu untuk mengingat kembali trauma yang saya alami beberapa tahun terakhir,” kata Sorensen. Tekanan untuk maju dan terus bekerja tanpa mengkhawatirkan kesehatan mental semakin berdampak pada perempuan dan generasi muda.

Kecemasan Finansial Bisa Berimbas Pada Kesehatan Mental

Kaurama, JAKARTA — Kekhawatiran terhadap keadaan keuangan dapat berdampak pada kesehatan mental. Sementara itu, resesi global, kenaikan harga-harga dan ketakutan akan pengangguran terus berlanjut, meninggalkan banyak orang dalam ketakutan dan kebingungan.

Kekhawatiran finansial adalah masalah sehari-hari bagi banyak orang, kata psikolog Thomas Richardson. Namun hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan mental.

“Besarnya stres dan kecemasan yang Anda alami terhadap keuangan memang berdampak besar pada seberapa besar Anda sengaja bergumul dengan keuangan,” kata Richardson, dikutip situs Mirror, Jumat (23/2/2024).

Richardson menjelaskan, respons psikologis yang umum terhadap masalah keuangan adalah stres, depresi, gangguan kecemasan, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri. Orang dengan masalah keuangan mengalami penurunan kesehatan mental seiring berjalannya waktu.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki utang tanpa jaminan, seperti kartu kredit, tiga kali lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental. Situasi ini juga menyebabkan banyak orang bergelut dengan masalah narkoba dan alkohol.

Siklus kesulitan keuangan dan masalah kesehatan mental bisa menjadi lingkaran setan. Misalnya, seseorang mungkin khawatir tidak mampu membayar tagihannya dan merasa cemas. Kekhawatiran ini kemudian membuat pengelolaan keuangan menjadi sulit atau bahkan lebih buruk lagi.

Sebaliknya, masalah kesehatan mental yang parah dapat menyebabkan orang menerima pekerjaan dengan gaji rendah atau tidak stabil. Beberapa masalah kesehatan mental, seperti gangguan bipolar, juga dikaitkan dengan tingginya tingkat pengeluaran mendesak dan risiko kebangkrutan.

Richardson, pakar hubungan masalah keuangan dan masalah kesehatan mental, berbagi beberapa cara mengatasi kekhawatiran finansial. Jika seseorang menghadapi masalah keuangan, penting untuk dipahami bahwa mereka tidak sendirian.

Ungkap Ciri Stres Saat Coblosan, Dokter Jiwa: Pemilu Harusnya Menyenangkan

Jakarta –

Banyak rumah sakit swasta dan milik pemerintah yang melakukan sosialisasi layanan kesehatan mental untuk mengantisipasi dampak pemilu 2024. Psikiater mengingatkan pemilu harus menyenangkan.

Dampak psikologis terhadap pemilu berkisar dari risiko stres dan kecemasan menjelang pemilu hingga keengganan untuk menerima hasil yang tidak sesuai harapan. Baik yang terpilih maupun tidak, serta pemilih dengan aspirasi tertentu, semuanya menghadapi risiko ini.

Urutannya begini, dimulai dari stres dulu, stres artinya tidak mampu menghadapi stres. Namanya stres mental, kata SPKJ Dr Ashwin Kanduv saat berbincang dengan wartawan, Selasa (13). /2/2024)

“Jika stres ini terus berlanjut, bisa menimbulkan kecemasan, bisa berubah menjadi depresi, bisa berubah menjadi psikosis,” ujarnya.

Menurut dr Ashwin, beberapa gejala depresi yang patut dicermati dalam konteks dampak pemilu: kesedihan lebih dari 2 minggu, kurang minat pada hobi, kurang berenergi, sulit konsentrasi karena kelelahan. Perubahan kebiasaan makan menjadi fokus, sulit makan lebih banyak atau tidur lebih banyak, sulit tidur atau cenderung menarik diri dari pergaulan dan hubungan tanpa pemulihan. Rasa percaya diri menurun. Pada kasus yang lebih parah, muncul keraguan dan kesulitan mengambil keputusan. Ada kecenderungan untuk mengakhiri hidup dengan melukai diri sendiri.

Stres yang berkepanjangan dan tidak diobati tidak hanya dapat menyebabkan depresi tetapi juga psikosis. Cirinya adalah ketidakmampuan mengenali kenyataan, misalnya melihat halusinasi atau mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada.

Miskonsepsinya sama saja. Misalnya kalau kalah, tapi tetap percaya, itu tidak benar. Lebih parah lagi, jelas Dr Ashwin.

Berikutnya: Pemilu harusnya menyenangkan

(naik naik)

Curhat Timses Caleg ‘Kena Mental’, Stres Berat hingga Sulit Tidur

Jakarta –

Fony (38), salah satu anggota tim calon anggota parlemen dan calon presiden, bercerita tentang kondisi kesehatan mental yang dialaminya saat pemilu 2024. Fony mengaku mengalami stres berat usai pemilu karena calon anggota parlemen dan presiden pendukungnya mendapat suara. tidak sesuai dengan target tersebut.

Ia mengaku mulai merasakan gejala seperti sulit tidur beberapa hari setelah pemungutan suara dan kerap memikirkan hasil pemilu lanjutan yang masih dihitung di KPU.

“Misalnya saya tanya, yang bersangkutan baik-baik saja. Kita sudah bersama selama 5 tahun, artinya kita bisa membantu warga dan segala macamnya,” kata Fony saat lolos tes skrining kejiwaan. RSUD Tamansari, Selasa (20/2/2024).

Ia mengaku mendapat informasi mengenai pemeriksaan kejiwaan melalui grup WhatsApp. Sambil meragukan dirinya sendiri, Fony akhirnya memberanikan diri untuk menyelidikinya.

Ia berharap ujian ini bisa membuatnya merasa lebih tenang karena kuatnya stres yang dialaminya.

“Saya kira sebenarnya banyak orang yang mengalami gangguan jiwa seperti itu, hanya saja mereka tidak berani menjalani tes seperti itu. Takut disebut gila, disebut stres,” kata Fonny.

“Sebenarnya awalnya aku seperti, ‘Dengar, aku akan disebut gila.’ Tapi begitulah cara kami mencoba mencari tahu tentang diri kami sendiri,” imbuhnya.

Fony mengaku sudah masuk salah satu tim calon legislatif selama lima tahun terakhir. Menurutnya, persiapan yang lama dan hasil yang tidak konsisten menjadi faktor utama yang membuatnya mengalami stres yang sangat tinggi.

Dari pemeriksaan diketahui ia mengalami stres berat. Fony disarankan untuk lebih banyak istirahat dan mulai belajar secara perlahan untuk menerima konsekuensi jika tidak memenuhi ekspektasi.

“Mungkin keinginan warga kami penuhi dalam artian bantuan ini diberikan di sini pada tahun 2019, namun di daerah tertentu hasilnya kurang memuaskan, berbeda dengan peta yang terbentuk pada tahun 2019.” “Apakah terlalu bahagia merupakan bagian dari stres?” tonton videonya (avk/naf)

Dokter Ungkap Jenis Gangguan Jiwa yang Sering Dialami Caleg Kalah Pemilu

Jakarta –

Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 telah usai. Masyarakat Indonesia memilih calon presiden, calon wakil presiden, dan calon legislatif.

Namun banyak calon legislatif yang tidak mendapatkan suara yang diharapkan sehingga tidak mewakili rakyat. Hal ini sering kali menyebabkan stres, depresi, dan bahkan penyakit mental yang tidak terdiagnosis.

Psikolog Dr. Jap Mustopo Bahtiar, SpKJ, dari Mayapada Hospital mengungkap gangguan jiwa yang umum terjadi. Sulit tidur, cemas, depresi, sedih, dan pola berpikir terganggu.

Saat diwawancarai detikcom, Jumat (16/2/2024), ia mengatakan, “Penyakit jiwa ini tidak lepas dari masa lalunya, dan ia selalu memikirkan dirinya sendiri. Makanya ia gugup saat tidur.”

“Mungkin dari segi politik dia merasa kecewa, harapannya gagal, merasa tidak sesuai dengan kenyataan,” lanjut Dr. Jepang. Jadi dia sedih.”

Menurut Dr. Japp, kesulitan tidur dan perubahan perilaku adalah salah satu tanda pertama penyakit mental yang nyata. Kondisi ini berdampak pada keluhan spesifik atau fisik tanpa adanya penyakit tertentu.

“Dia tertidur sebentar,” jelasnya. Sehingga timbul kesulitan untuk tidur, kemudian cepat bangun, dan lama kelamaan menjalar ke beberapa keluhan. “Dia juga mudah cemas, jantungnya berdebar-debar, dan asam lambungnya tinggi.”

Apakah itu mempengaruhi jantung?

Dr tidak menyangkal. Jap kemungkinan adanya beberapa keluhan jantung seperti jantung berdebar. Namun, penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hubungan ini.

“Bagi saya, harus ada pemeriksaan fisik dan psikis,” kata dr. Jepang. “Saya selalu memeriksa elektrokardiogram (EKG) pasien untuk mendeteksi (kemungkinan masalah jantung).”

“Selain itu, kami memeriksa tekanan darah, denyut nadi, dan rontgen untuk melihat apakah jantungnya membesar. Jika tidak obyektif, mungkin karena kecemasan yang mempengaruhi jantung. menyimpulkan. “Waspadalah terhadap stres akibat gagal pemilu, sakit perut” (sao/naf)

Kepikiran Pemilu Tak Cuma Bikin Stres, Bisa Juga Kena Jantung dan Asam Lambung

Jakarta –

Awas. Dinamika politik pemilu 2024 yang penuh drama dapat memicu stres yang dampaknya dapat melemahkan kondisi kesehatan mental. Tak hanya itu, stres juga berdampak pada kesehatan jantung dan pencernaan Anda.

Dokter Jaap Mostupo Bakhtiar, SpKJ, Psikiater RS ​​Mayapada Tangerang menyarankan Anda segera berobat jika mengalami gejala gangguan jiwa saat pemilu 2024. Jika terdeteksi sejak dini, dokter akan lebih mudah mengobatinya dengan obat-obatan atau psikoterapi. . sesuai kebutuhan.

Keluhannya bisa bermacam-macam dan beragam. Kalau keluhan tertentu mengarah pada gangguan jiwa, misalnya cemas, sulit tidur, atau sedih dan kurang perhatian, kata dr Jap saat berbincang dengan Detikcom, Jumat (16/2). /2024).

Ia menambahkan, “Atau yang kurang jelas adalah keluhan fisik dan fisik. Bisa jadi. Dia mungkin menderita sakit kepala, mual, gatal-gatal, jantung berdebar, dan sesak napas, yang merupakan manifestasi dari masalah kejiwaan.”

Sementara itu, dr Muhammad Yugu Haru Sakti Dua, SpPD-KGEH, konsultan gastroenterologi di Mayapada Hospital, Jakarta Selatan, mengatakan ada hubungan erat antara sistem pencernaan dengan stres otak. Hal ini menjelaskan mengapa stres mempengaruhi frekuensi asam lambung.

“Pertama, mungkin ada masalah pencernaan, artinya ada maag di saluran pencernaan,” kata dr Hario.

“Kalau ada luka kita bagi menjadi dua, ada luka di tenggorokan atau kerongkongan, lalu kita dengar penyakit refluks esofagus (GERD) dan ada luka di lambung, yang sering kita dengar. “Dia menjelaskan.” Maag atau maag. Ini jika ada cedera. “Memang”.

Dokter menambahkan: “Tapi kalau stress terlalu banyak, kurang istirahat atau apapun yang menjadi pemicunya, bisa jadi asam lambungnya naik, lalu muncul gejalanya, dan kalau kita lihat ke dalam, belum tentu maag, jadi bertambah. Karena faktor stres.” Oke.

Salah satu keluhan yang sering muncul saat stres adalah refluks asam lambung yang dialami sebagian besar orang berupa nyeri dada dan leher. Menurut dr Hario, ada kemungkinan terjadinya refluks asam lambung, namun ada kasus lain yang tidak kalah penting untuk diantisipasi, yaitu serangan jantung yang juga ditandai dengan nyeri dada.

“Bagian saya (pencernaan) tidak terlalu penting, repot. Yang penting jantungnya, aman atau tidaknya jantung. Kalau tidak aman, obati jantungnya,” kata dr Hario.

Pernyataan tersebut tidak berlebihan, hingga Minggu (18/2) data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, 13 dari 57 kematian yang dilihat petugas pemilu pada tahun 2024 disebabkan oleh penyakit jantung. Selain stres mental, stres fisik juga bisa menjadi faktor penyebab terjadinya burnout.

“Bekerja 24 jam sehari, misalnya dalam situasi stres berat, meningkatkan stres mental dan fisik,” kata dr. Arun Husink, SpJP(K), FIHA, ahli jantung intervensi di RS Mayapada, Jakarta Selatan.

Saat terkena stres mental dan fisik, beban jantung bertambah. Denyut jantung meningkat, tekanan darah meningkat.

Pada orang yang pernah mengalami gangguan jantung sebelumnya, kondisi ini bisa memicu serangan jantung. Berbagai kondisi tersebut bisa berupa penyempitan pembuluh darah jantung atau melemahnya otot jantung.

Seringkali, berbagai penyakit jantung tidak terdiagnosis karena tidak pernah diperiksa. Ada juga orang yang sudah mengetahui dirinya mengidap kondisi ini, namun karena satu dan lain hal, mereka tidak rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, sehingga berisiko terkena serangan jantung saat stres.

Selanjutnya: Diperlukan pengobatan segera

(diatas kita)

5 Manfaat Membuat Kue sebagai Terapi

Kaurama, Jakarta – Membuat roti di waktu senggang bermanfaat sebagai terapi untuk mengurangi rasa lelah dan mengembalikan fokus. Oleh karena itu, pembuatan roti juga mencakup mesin pembuat roti atau pengering roti.

Menurut situs Free From Heaven, satu dari tiga orang di Inggris memilih memasak ketika mereka sedang stres. Roti buatan sendiri adalah suatu kesenangan untuk dibagikan karena Anda dapat membaginya. Manfaat memanggang roti

1. Mengurangi stres

Proyek kreatif membuat kue sendiri menambah semangat. Memasak juga mengurangi hormon stres seperti kortisol, epinefrin, dan dopamin. Mengurangi stres membuat tidur lebih nyenyak dan alami, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh.

2. Dapatkan kembali kepercayaan diri Anda

Kesuksesan setelah membuat kue memberikan hasil kerja yang positif sehingga meningkatkan rasa percaya diri. Jika setelah itu Anda berbagi kue dengan orang yang Anda cintai dan mereka mendapat pujian, ini menambah rasa percaya diri. Beberapa umpan balik positif dari orang lain membantu mengurangi kecemasan dan depresi. Kiat-kiat ini berguna untuk melawan keraguan dan menghadapi sikap negatif dengan cara yang produktif dan praktis.

3. Kreativitas

Saat Anda membuat kue, kreativitas meningkat karena Anda bisa berkreasi dengan warna dan bentuk kuenya. Kegiatan ini mendorong kreativitas dalam pikiran. Kreativitas menciptakan kedamaian dalam pikiran dan tubuh. Orang yang berpikir kreatif akan mengurangi gejala demensia, meningkatkan daya ingat dan kemampuan kognitif.

4. Membantu sosialisasi

Bukan hanya berurusan dengan orang luar saja, tapi dengan teman-teman terdekatmu, itulah keluargamu. Memanggang dan memanggang baik untuk hubungan baik. Meningkatkan hubungan akan memberi Anda motivasi terbaik untuk terus percaya dan berbagi.

5. Sensasi tubuh

Saat Anda membuat roti, semua indera di tubuh diaktifkan. Selera mengukur rasa kue. Rasakan aromanya saat roti dipanggang. Indra pendengaran mendengar suara instrumen dan peralatan saat diproses. Indra penglihatan melihat kue itu mengembang dan matang. Semua fungsi sensorik penting untuk menjaga kesehatan.

Pilihan Editor: 3 variasi resep kue

Psikiater mengatakan bahwa berpikir positif dapat membuat tubuh lebih sehat dan membantu Anda lebih fokus dalam menyelesaikan masalah. Baca selengkapnya

Menangis memiliki banyak manfaat ilmiah, termasuk melepaskan hormon bahagia yang membantu menyembuhkan luka dan mengurangi stres. apakah itu penting Baca selengkapnya

Hipnosis dapat digunakan untuk mengatasi rasa sakit atau kecemasan dan juga dapat membantu mengubah perilaku berbahaya. Apakah hasilnya bagus? Baca selengkapnya

Psikolog mengatakan pengendalian pikiran adalah kunci bagi calon legislatif yang cemas dan kecewa pasca pemilu 2024. Baca artikel selengkapnya

Marah karena hal kecil adalah hal yang wajar, namun jika Anda mudah dan sering marah, pasti ada sesuatu yang salah. Baca selengkapnya

Para ilmuwan mengidentifikasi banyak hal yang tampaknya tidak berbahaya yang kita lakukan setiap hari yang menyebabkan otak menua. Baca selengkapnya

Layanan kesehatan mental apa yang ditawarkan banyak rumah sakit untuk merawat calon legislatif yang cemas dan depresi karena kalah dalam pemilu kongres 2024? Baca selengkapnya

Psikiater mengatakan, pasca pemilu 2024, penyakit mental bisa berdampak buruk pada kehidupan mereka yang terkena dampaknya. Inilah yang perlu dilakukan. Baca selengkapnya

Jelang Pemilu 2024, beberapa kota, termasuk DKI Jakarta dan Cianjur, memberikan layanan kesehatan mental kepada calon legislatif yang ngotot tak terpilih. Baca selengkapnya

Banyak pilihan pengobatan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan anak. Baca selengkapnya

Sederet Tanda Gangguan Mental gegara Gagal Nyaleg, Jangan Sampai ‘Denial’

Jakarta –

Pemilu 2024 telah berakhir pada Rabu (14/2/2024). Tak hanya calon presiden dan wakil presiden, calon legislatif (caleg) juga bersaing memperebutkan posisi wakil rakyat.

Namun tidak semua pemilih mampu memperoleh suara yang cukup dan tidak berhasil menjadi wakil rakyat. Secara psikologis, kondisi ini bisa berujung pada kekecewaan, depresi atau bahkan gangguan jiwa.

Meski begitu, banyak yang belum menyadari bahwa perasaan kecewa dan stres bisa menjadi tanda gangguan jiwa.

Psikiater Dr. Jap Mustopo Bahtiar, SpKJ, dari Mayapada Hospital mengatakan, keluhan seseorang dengan gangguan jiwa bisa bermacam-macam. Selain berdampak pada kesehatan mental, gejalanya juga bisa berdampak pada fisik.

“Bukan hanya calon sah, keluhan yang saya dapat dari pasien lain bisa berbeda-beda. Kalau khusus dari kesehatan mentalnya, misalnya dia jadi cemas, sulit tidur, sedih, tidak semangat,” jelasnya dalam sesi wawancara dengan detikcom pada Jumat (16/2/2024).

Atau yang kurang terlihat, mungkin dia sering mengeluh secara fisik atau somatik. Sakit kepala, mual atau gatal, jantung berdebar, sesak napas, mungkin juga itu indikasi gangguan psikis, lanjut dr. Ya.

Dr. Jap mengatakan, pasien yang mengeluhkan kondisi seperti itu biasanya akan memeriksakan diri ke dokter lain, tidak langsung ke bagian kesehatan jiwa. Bisa dokter umum, spesialis jantung, atau ahli saraf.

Umumnya dokter bisa mendeteksi gangguan jiwa sejak dini dari gejala-gejala tersebut. Yang pasti, para dokter menanyakan riwayat pasien calon hukum atau masyarakat biasa.

Menurut dia, pertanyaan tersebut bisa membantu penyelidikan lebih detail. Selain itu, pihak keluarga juga dapat membantu untuk melihat kondisi keluarga yang mengajukan permohonan menjadi calon sah.

Misalnya, mereka yang terlibat pada awalnya bersemangat dan yakin bahwa mereka akan berhasil, namun kenyataannya tidak demikian.

“Kadang-kadang caleg yang mengalami hal ini agak kurang penilaiannya karena emosinya sudah tinggi, tidak bisa dikendalikan, dan stres banget. Jadi kurang paham,” jelas dr. Ya.

Mungkin juga dia menolak dirinya sendiri dan tidak mau berobat. Mungkin hasil pemeriksaannya pas-pasan dan tidak sesuai dengan keluhannya. Ini yang membuat pengobatannya berulang, ujarnya. Tonton video “Ini yang Perlu Kamu Ketahui Agar Tidak Mental Saat Bermain di Media Sosial!” (sao/naf)

Sering Sendawa Padahal Tidak Makan, Mungkin Ini Sebabnya

Kaurama, JAKARTA – Sendawa sebetulnya merupakan hal yang lumrah. Bersendawa empat kali setelah makan dianggap normal. Penyebabnya adalah terlalu banyak menelan udara, yang bisa terjadi jika Anda makan atau minum terlalu cepat, berbicara sambil makan, atau minum minuman berkarbonasi.

Namun jika Anda masih belum makan atau mengalami kembung, inilah saatnya mengubah gaya hidup Anda, kata ahli gastroenterologi Dr. Mengapa Coklat? Di TikTok, dia menjelaskan penyebab bersendawa berlebihan dan cara menghentikannya.

“Kalau sering bersendawa, ingatlah kalau itu terjadi dalam situasi stres disebut aerophagia, artinya Anda minum udara,” jelasnya. Brown juga menunjukkan beberapa hal yang bisa mencegahnya.

Perhatikan cara Anda bernapas. “Cobalah fokus pada pernafasan hidung dan pernafasan perlahan. Cara ini menenangkan Anda. Jika Anda stres, tulang belakang esofagus Anda bisa sedikit rileks dan Anda akan menelan udara tanpa menyadarinya,” jelasnya.

Berhati-hatilah saat menggunakan sedotan.

Jangan mengunyah permen karet, sehingga juga menelan udara.

Brown menambahkan, “Yang ingin Anda lewatkan adalah saat Anda mengalami refluks asam, yang mengirimkan sinyal untuk memproduksi lebih banyak air liur dan membuat Anda lebih sering menelan.

Jika kebiasaan bersendawa ini mengganggu keseharian Anda, inilah saatnya berkonsultasi ke dokter. Express melaporkan berita ini.

Pilihan Editor: Tips menghindari sendawa berlebihan dan jenis makanan pemicunya

Psikolog menyebut pengelolaan pikiran menjadi kunci bagi calon legislatif yang stres dan frustasi pasca pemilu 2024. Baca selengkapnya

Para ahli telah menyebutkan beberapa kebiasaan yang tampaknya tidak berbahaya yang kita lakukan setiap hari, namun sebenarnya menyebabkan penuaan otak. Baca selengkapnya

Layanan psikiatri apa saja yang disediakan berbagai rumah sakit untuk merawat calon legislatif yang stres dan depresi akibat kegagalan pemilu legislatif 2024? Baca selengkapnya

Psikiater mengatakan pasca pemilu 2024, gangguan jiwa bisa memperburuk kondisi hidup bersama. Inilah yang perlu dilakukan. Baca selengkapnya

Jelang Pemilu 2024, DKI akan memberikan layanan kesehatan mental kepada calon legislatif di beberapa kota, termasuk Jakarta dan Cianjur, karena mereka tidak terpilih. Baca selengkapnya

Angkatan udara Yordania dan Belanda pada hari Senin meluncurkan bantuan kemanusiaan darurat kedua di Gaza utara dalam 24 jam. Baca selengkapnya

Sebuah laporan mengatakan bahwa 70 persen atlet anak-anak dan remaja berhenti pada usia 13 tahun, dan para ahli menyebutnya sebagai kelelahan dini. Baca selengkapnya

WHO menyebut burnout sebagai stres kronis yang berhubungan dengan pekerjaan. Psikolog juga menyebutkan ancaman terhadap kesehatan fisik, mental dan emosional. Baca selengkapnya

Stres menjadi hal yang tidak bisa dihindari akibat bepergian di tengah meningkatnya mobilitas. Kondisi ini sering disebut sebagai stres perjalanan. Baca selengkapnya

Ada kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang saat bangun tidur dan harus segera dihentikan jika tidak ingin stres. apa itu Baca selengkapnya

Hati-hati Pantau Quick Count, Stres Bisa Bahaya Jika Kondisi Mental Seperti Ini

Jakarta –

Hasil pemilu 2024 pertama kali diketahui melalui penghitungan suara yang dilakukan banyak lembaga. Semakin stres bila hasilnya tidak sesuai harapan.

Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jiwa, psikiater Dr. Ashwin Kandouw, SpKJ tentang non-kekerasan. Stres yang terjadi dapat memperburuk keadaan.

“Orang yang depresi berisiko. Orang yang depresi lebih besar kemungkinannya mengalami depresi,” ujarnya saat diwawancara wartawan, Selasa (13/2/2024).

Secara umum, seseorang dengan mood atau temperamen yang buruk akan lebih mudah mengalami stres jika terkena stres. Bipolar mempunyai perubahan suasana hati, termasuk yang sulit untuk diatasi.

“Gangguan mood itu ada dua, ada depresi dan ada bipolar. Keduanya rentan mengalami stres ekstrem,” kata Dr. Ashwin.

Dampak stres bisa sangat parah pada penderita demensia, yang mengalami kesulitan membedakan kenyataan. Menurutnya, kondisi yang bisa menimbulkan delusi dan halusinasi ini bersifat permanen dan mudah kambuh.

Jadi dia menasehati Dr. Ashwin tidak boleh “memikirkan” hasil pemilu meski tidak sesuai harapan. Menurutnya, seseorang harus belajar menerima keadaan yang tidak disukainya.

“Sebenarnya pemilu ini menurut saya adalah ajang untuk mendewasakan perilaku kita agar kita belajar menerimanya. Kadang ada yang sesuai dengan keinginan kita, ada yang tidak sesuai,” ujarnya. Tonton video “Ini yang Perlu Diketahui Agar Tak Perlu Hati-Hati Menggunakan Media Sosial!” (dari atas)

Me Time ala Nikita Willy: Jalan 10 Ribu Langkah di Treadmill demi ‘Waras’

Jakarta –

Usai menjadi ibunda Isa Sander Chokosotono, kehidupan artis Nikita Wily tengah menyedot perhatian netizen. Pasalnya, wanita kelahiran 1994 ini tetap terlihat bugar dan awet muda.

Namun siapa sangka sejak menjadi seorang ibu, Nikita juga akan menghadapi stres. Ia merasa tidak punya waktu untuk dirinya sendiri dan lebih fokus pada keluarganya.

Namun, Nikita kini membagi waktunya antara mengurus keluarga dan dirinya sendiri. Bedanya, wanita berusia 29 tahun ini memutuskan untuk menghabiskan waktu luangnya dengan berjalan di atas treadmill.

“Salah satu hal yang aku suka adalah berjalan di atas treadmill di pagi hari dan menyelesaikan 10.000 langkah sehari. Setelah aku selesai treadmill, aku mandi air dingin, jadi menyegarkan sekali,” kata Nikita saat (konferensi media) di hari Rabu. 7/2/2024).

“Setelah itu, Anda siap menghadapi hari dengan penuh amarah,” ujarnya.

Selain lari di treadmill, Nikita gemar melakukan hal-hal sederhana untuk mengisi waktu saat anak-anaknya tidur. Menurut Nikita, jadwal yang konsisten membuat para ibu punya waktu luang sendiri.

Misalnya, Nikita yang membiasakan anak-anaknya tidur sekitar pukul 19.30 atau 20.00. Setelah anak-anak tidur, Nikita punya lebih banyak waktu luang untuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Misalnya saya ada pekerjaan, saya selesaikan pekerjaan dulu saat anak tidur siang. Setelah jam 8 malam, saat anak tertidur, kita punya waktu lagi. Kita bisa menonton film atau mengecek media sosial. Media yang membuat aku senang. “Senang sekali,” jelas Nikita.

Ternyata Nikita sudah lama menjaga kebiasaan treadmill tersebut. Selain treadmill, Nikita juga mencoba pole dancing dan baru-baru ini mulai berlatih yoga.

Lewat postingan Instagramnya, Nikita kerap terlihat melakukan yoga. Tak hanya itu, ia kerap melakukan yoga bersama Jennifer Bakhtim. Tonton video “Apakah stres itu lucu?” (Sao/Sudut)

Setelah Liburan Panjang Malah Stres? Atasi dengan Cara Ini

Kaurama, JAKARTA — Bagaimana perasaan Anda setelah libur panjang? Apakah Anda merasa bersemangat atau tidak siap atau stres dengan rutinitas harian Anda?

Psikolog klinis dewasa dari Perkumpulan Psikolog Klinis Provinsi Banten, Mega Tala Harimukthi mengatakan salah satu cara menghindari stres pasca liburan adalah dengan mengelola ekspektasi, karena terkadang liburan tidak berjalan sesuai harapan. “Demikian pula setelah pulang kampung, kadang kita berharap agar setelah liburan kita semangat. Tapi setelah liburan kita capek, belum siap menghadapi pekerjaan. Jadi kita harus tetap mengatur ekspektasi meski sedang berlibur,” ujarnya. . saat dihubungi di Jakarta, Jumat (9/2/2024). St

Mega meyakini stres pasca liburan paling banyak dialami oleh generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial, dengan total 4-5 kasus. Menurutnya, selain tidak bisa mengatur ekspektasi, mereka juga bisa mengalami stres akibat konflik saat liburan, terutama yang berwisata bersama teman. Konflik ini dapat menyebabkan seseorang tidak dapat menikmati liburannya.

Jadi setelah liburan, yang mereka dapatkan bukan segar, tapi tertekan, dan merasa tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Jadi, kembali sesuai ekspektasi, kata Mega.

Di sisi lain, stres juga bisa muncul jika Anda memaksakan diri untuk pergi berlibur dan tidak merencanakan dengan baik, termasuk beradaptasi dengan kemampuan. Oleh karena itu Mega mengingatkan masyarakat agar mempersiapkan liburannya secara matang mulai dari bujet, teman yang diajak berlibur, dan lagi soal mengatur ekspektasi.

Selain itu, ia menyarankan agar masyarakat memanfaatkan liburan sebagai salah satu cara untuk melepaskan diri dari permasalahan sehari-hari dan saat situasi sedang stres. “Misalnya ada masalah di tempat kerja, lalu kamu pergi berlibur. Setelah selesai liburan, kamu kembali memperbaiki masalah awal agar tidak berakhir,” ucapnya seraya menasihati masyarakat agar mengambil tindakan. berlibur untuk menyeimbangkan fisik, mental dan spiritual serta menyelaraskan kehidupan sehari-hari.

Mega menuturkan, ada pula yang memanfaatkan libur panjang, termasuk pada pekan ini yakni Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, Tahun Baru Imlek, untuk pergi berlibur bersama keluarga atau sahabat. Bagi warga Jakarta atau warga Jakarta yang ingin berlibur ke Jakarta, Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan berbagai pihak menggelar berbagai acara di Jakarta mulai Kamis (8/2/2024) hingga 11 Februari, termasuk Underwater Naga. Show & Mermaid di Seaworld Ancol, atraksi Barongsai di Mall of Indonesia. Kemudian ada juga acara Imlek di Taman Atraksi Barongsai di Taman Literasi Martha C Tiahahu, Jakarta Selatan dan Festival Pecinan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).