Arsip Tag: pabrik baterai

Revolusi Energi: Baterai Berbahan Dasar Tanah Hadir, Bebas Bahan Kimia Beracun

JAKARTA – Tim ilmuwan Northwestern University menemukan terobosan baru dalam teknologi baterai: baterai berbahan dasar tanah liat.

Baterai ini menggunakan mikroorganisme yang tinggal di tanah untuk menghasilkan energi, sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Berukuran sebesar buku kecil, baterai darat ini dapat memberi daya pada sensor bawah tanah yang digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk:

1. Pertanian presisi: Sensor dapat memantau kondisi tanah secara real time, membantu petani mengoptimalkan penggunaan pupuk dan air.

2. Infrastruktur ramah lingkungan: Baterai tanah dapat digunakan untuk memberi daya pada sensor yang membantu memantau kondisi struktur seperti jembatan dan jalan, mencegah kerusakan, dan meningkatkan keselamatan.

Bill Yen, pemimpin penelitian ini, berkata, “Baterai darat ini merupakan solusi inovatif untuk menyediakan energi tanpa bahan kimia berbahaya. Ini merupakan langkah penting dalam menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. “

George Wells, peneliti lain dalam tim tersebut, mengatakan bahwa meskipun baterai darat tidak menghasilkan energi dalam jumlah besar, baterai tersebut cocok untuk aplikasi berdaya rendah. Keunggulannya adalah mudah dipasang dan dirawat serta tidak memerlukan sumber listrik eksternal.

Baterai lantai memiliki beberapa keunggulan dibandingkan baterai konvensional: 1. Ramah lingkungan: Baterai lantai terbuat dari bahan alami dan tidak mengandung bahan kimia beracun.

2. Terbarukan: Baterai tanah dapat menghasilkan energi selama tanah kaya akan bahan organik.

3. Daya Tahan Lama: Baterai tanah telah terbukti cukup kuat untuk menahan perubahan besar pada kelembaban tanah.

4. Hemat biaya: Komponen pembuatan baterai ground dapat dibeli dengan mudah dan murah.

Para ilmuwan ini berencana mengembangkan baterai tanah yang seluruhnya terbuat dari bahan yang dapat terbiodegradasi. Hal ini semakin meningkatkan keberlanjutan dan keramahan lingkungan dari teknologi ini.

Bill Yen mencatat bahwa baterai darat merupakan perkembangan yang menjanjikan di bidang energi terbarukan. Dengan kemampuannya menyediakan energi yang bersih dan berkelanjutan, baterai darat memainkan peran penting dalam memerangi perubahan iklim dan membangun masa depan yang lebih ramah lingkungan.

Luhut Sebut Baterai LFP Tak Bisa Didaur Ulang, Bagaimana Faktanya?

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan mengatakan baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) saat ini belum bisa didaur ulang. Apakah ini benar?

Baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) ramai diperbincangkan, terutama saat debat cawapres, Minggu (21/1/2024). Sebagian besar produsen mobil kini beralih ke baterai LFP untuk kendaraan listriknya.

“Masyarakat perlu mengetahui bahwa meskipun baterai lithium berbahan nikel dapat didaur ulang, baterai LFP belum dapat didaur ulang.” Tapi lagi-lagi teknologi terus berkembang,” kata Luhut seperti dikutip dari Instagram resminya.

Jadi, bisakah baterai LFP didaur ulang?

Baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) dan NCM (Nickel Cobalt Manganese) merupakan baterai lithium ion yang biasa digunakan pada kendaraan listrik dan penyimpanan energi.

Namun terdapat perbedaan dalam pengolahan keduanya. Faktanya, baterai LFP bisa didaur ulang. Namun ada beberapa pertimbangan yang membuatnya tidak sepopuler baterai NCM. Berikut beberapa alasannya:

1. Proses pembuatan yang canggih Baterai LFP memiliki desain sederhana dengan kandungan logam berat lebih sedikit dibandingkan baterai NCM. Meski dapat didaur ulang, proses daur ulang baterai LFP seringkali dianggap lebih rumit dan mahal. Oleh karena itu, ini tidak cocok untuk skala ekonomi.

2. Efisiensi pemrosesan yang lebih rendah Dalam beberapa kasus, efisiensi pemrosesan baterai LFP mungkin lebih rendah dibandingkan baterai NCM. Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat pemurnian yang lebih tinggi yang diperlukan untuk memisahkan sel-sel dalam baterai LFP.

3. Baterai LFP bernilai komersial rendah mungkin mengandung kontaminan yang sulit dipisahkan selama proses daur ulang. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya kualitas bahan olahan. Selain itu, baterai LFP terdiri dari litium dan besi. Limbah baterai LFP memiliki nilai komersial yang lebih rendah dibandingkan limbah baterai lithium NCM, dimana nikel, kobalt, mangan dan aluminium mudah diekstraksi dan memiliki nilai komersial yang lebih baik.

4. Tingkat produksi yang rendah Proses pengambilan sel baterai LFP dari kendaraan atau perangkat penyimpan energi bisa lebih rumit dan memerlukan peralatan khusus. Hal ini dapat menjadi komplikasi tambahan dalam pemrosesan.

5. Pilihan pemrosesan yang terbatas Infrastruktur pemrosesan baterai LFP mungkin tidak sepenuhnya optimal, terutama jika terdapat permintaan global yang lebih besar untuk baterai lain seperti NCM.

Meskipun demikian, perusahaan dan penelitian terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses daur ulang baterai LFP.