Arsip Tag: nikel

Risiko Kerusakan Habitat Burung Endemik di Sulawesi dan Maluku

Kaurama – Sulawesi dan Maluku termasuk habitat burung endemik yang paling rentan terhadap erosi akibat aktivitas pertambangan. Peneliti Pusat Penelitian Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mohammad Irham mengatakan, penambangan terbuka atau dikenal juga dengan proyek penambangan permukaan seperti penambangan nikel, seringkali merusak vegetasi tempat hidup satwa liar.

“Proses pengambilan cangkang ini jelas berdampak pada komunitas burung secara keseluruhan, termasuk burung endemik,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 7 Februari 2024.

Penembakan atas, atau penambangan strip, adalah metode populer yang digunakan di tambang terbuka. Istilah pengupasan mengacu pada penghilangan lapisan tanah dan batuan untuk mencari nikel, batu bara, atau bahan lain di bawahnya. Skema ini umumnya mengurangi tutupan vegetasi di suatu wilayah tertentu.

Contoh penambangan yang dapat mengganggu habitat burung bisa dilihat di Sulawesi Tenggara, ujarnya. Sarang yang bersentuhan dengan tambang tersebut terletak di sepanjang jalan dari Kota Kolaka hingga kawasan Batu Putih bahkan hingga Morowali. Habitat Kolaka merupakan rumah bagi beberapa jenis burung endemik Sulawesi, seperti rangkong sulawesi, bilbong dan beberapa jenis pergamum. Gangguan habitat juga terjadi di kawasan Halmahera, pulau seluas hampir 18.000 kilometer persegi di Maluku Utara.

“Sarang burung dan sumber makanan sebagian besar terganggu. “Dalam jangka panjang, (gangguan habitat) bisa menyebabkan perubahan kecil pada iklim,” kata Irham.

Irham mengatakan pihaknya belum mengukur sejauh mana habitat burung endemik yang terganggu akibat pertambangan. Namun, masuk akal jika penggundulan hutan dapat mengancam habitat burung. “Pasti ada tempat-tempat yang belum sepenuhnya berkembang. Reklamasi juga menjadi salah satu kewajiban setelah tambang selesai.”

Menurut Yayasan Madani Berkelanjutan, luas konsesi nikel di Sultra mencapai 243,3 ribu hektare pada pertengahan tahun 2023. Pada periode yang sama, luas konsesi nikel di Maluku Utara juga mencapai 204,85 ribu hektare.

Pakar keanekaragaman hayati dan konservasi burung Indonesia Ahmad Rida Junaid sebelumnya mengatakan perubahan sekecil apa pun pada tutupan hutan dapat mempengaruhi habitat burung endemik. Padahal, spesies endemik yang habitatnya terbatas tidak boleh diganggu pada musim kawinnya.

“Jika habitatnya rusak pasti berdampak pada penurunan populasi dalam jangka panjang,” kata Ridha.

Pilihan Editor: Saat burung endemik Indonesia terancam dengan dibukanya tambang

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan kendaraan listrik atau EV merupakan masa depan industri otomotif Indonesia. Baca selengkapnya

Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia membantah tudingan Indonesia bergantung pada China.

Wakil kapten tim nasional Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Amin) Tom Lembong mengomentari penurunan harga nikel. Baca selengkapnya

Ledakan smelter di Morowali pada 24 Desember 2023 menewaskan 21 orang. Baca selengkapnya

Tom Lembong mengomentari harga pangan dan dugaan kolusi di sektor perbankan. Baca selengkapnya

Sejumlah restoran tengah memberikan promosi atau diskon berupa potongan harga atau potongan harga dalam rangka Imlek yang jatuh pada hari Sabtu.

Tom Lembong, wakil kapten timnas AMIN, angkat bicara soal pernyataan Menteri Koordinator Kelautan dan Perikanan Luhut Binsar Pandjaitan soal harga nikel. Baca selengkapnya

Ledakan di pabrik nikel PT ITSS di Morowali, Sulawesi Tengah, menewaskan 21 pekerja, 8 pekerja asing asal China, dan 13 pekerja lokal. Baca selengkapnya

Kedua korban penembakan KCB OPM adalah Wakil Irjen Polisi (Aiptu) Manurung dan Benyamin Banua (53). Baca selengkapnya

Reskrim Polda Bangka Belitung mengaku tidak ada orang atau aktivitas di lokasi penambangan timah dekat Bandara Depati Amir Pangkal Pinang itu. Baca selengkapnya

Luhut Sebut Baterai LFP Tak Bisa Didaur Ulang, Bagaimana Faktanya?

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan mengatakan baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) saat ini belum bisa didaur ulang. Apakah ini benar?

Baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) ramai diperbincangkan, terutama saat debat cawapres, Minggu (21/1/2024). Sebagian besar produsen mobil kini beralih ke baterai LFP untuk kendaraan listriknya.

“Masyarakat perlu mengetahui bahwa meskipun baterai lithium berbahan nikel dapat didaur ulang, baterai LFP belum dapat didaur ulang.” Tapi lagi-lagi teknologi terus berkembang,” kata Luhut seperti dikutip dari Instagram resminya.

Jadi, bisakah baterai LFP didaur ulang?

Baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) dan NCM (Nickel Cobalt Manganese) merupakan baterai lithium ion yang biasa digunakan pada kendaraan listrik dan penyimpanan energi.

Namun terdapat perbedaan dalam pengolahan keduanya. Faktanya, baterai LFP bisa didaur ulang. Namun ada beberapa pertimbangan yang membuatnya tidak sepopuler baterai NCM. Berikut beberapa alasannya:

1. Proses pembuatan yang canggih Baterai LFP memiliki desain sederhana dengan kandungan logam berat lebih sedikit dibandingkan baterai NCM. Meski dapat didaur ulang, proses daur ulang baterai LFP seringkali dianggap lebih rumit dan mahal. Oleh karena itu, ini tidak cocok untuk skala ekonomi.

2. Efisiensi pemrosesan yang lebih rendah Dalam beberapa kasus, efisiensi pemrosesan baterai LFP mungkin lebih rendah dibandingkan baterai NCM. Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat pemurnian yang lebih tinggi yang diperlukan untuk memisahkan sel-sel dalam baterai LFP.

3. Baterai LFP bernilai komersial rendah mungkin mengandung kontaminan yang sulit dipisahkan selama proses daur ulang. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya kualitas bahan olahan. Selain itu, baterai LFP terdiri dari litium dan besi. Limbah baterai LFP memiliki nilai komersial yang lebih rendah dibandingkan limbah baterai lithium NCM, dimana nikel, kobalt, mangan dan aluminium mudah diekstraksi dan memiliki nilai komersial yang lebih baik.

4. Tingkat produksi yang rendah Proses pengambilan sel baterai LFP dari kendaraan atau perangkat penyimpan energi bisa lebih rumit dan memerlukan peralatan khusus. Hal ini dapat menjadi komplikasi tambahan dalam pemrosesan.

5. Pilihan pemrosesan yang terbatas Infrastruktur pemrosesan baterai LFP mungkin tidak sepenuhnya optimal, terutama jika terdapat permintaan global yang lebih besar untuk baterai lain seperti NCM.

Meskipun demikian, perusahaan dan penelitian terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses daur ulang baterai LFP.