UHN Luncurkan TLFF sebagai Platform Strategis untuk Pembiayaan Ekonomi Hijau yang Berkelanjutan

Jakarta – Dalam upaya mendukung agenda iklim dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, Universitas Harkat Negeri (UHN) meluncurkan kembali Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) sebagai sebuah platform terintegrasi untuk pembiayaan dan edukasi yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi hijau. Acara peluncuran ini berlangsung pada Selasa, 7 April 2026, dan ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Direktur SUSTAINABILITAS, William Sabandar, dan Sekretaris Jenderal Global Alliance for a Sustainable Planet, Satya Tripathi. TLFF, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2016, merupakan sebuah platform blended yang dibentuk oleh berbagai lembaga, termasuk Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Badan Dunia dalam bidang Agroforestry (ICRAF), serta sejumlah pemangku kepentingan di sektor keuangan. Fokus utama TLFF adalah mendukung skema pendanaan jangka panjang, baik itu melalui pinjaman, dana, maupun pendampingan teknis, untuk proyek yang mendukung pertumbuhan hijau, pertanian berkelanjutan, dan pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Fokus TLFF dalam Pembiayaan Ekonomi Hijau
Dengan tujuan utama untuk mengurangi deforestasi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama di daerah pedesaan, TLFF berkomitmen untuk menyediakan pembiayaan bagi proyek-proyek yang sejalan dengan prinsip ekonomi hijau. Dikenal sebagai Fasilitas Pembiayaan Lanskap Tropis, TLFF tidak hanya berfungsi sebagai sumber dana, tetapi juga sebagai pusat penelitian dan pengembangan kebijakan yang berfokus pada keberlanjutan.
Almarhum Kuntoro Mangkusubroto, yang menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 1998-1999 dan memimpin Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, merupakan salah satu tokoh kunci dalam pembentukan TLFF. Kini, pusat kegiatan TLFF terletak di SUSTAINABILITAS, yang beralamat di Transport Hub Dukuh Atas, Jakarta. Lokasi ini dipilih untuk mencerminkan perubahan gaya hidup urban yang lebih berkelanjutan, dengan memfasilitasi akses transportasi umum dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Peran SUSTAINABILITAS dalam Mendukung TLFF
William Sabandar, dalam pernyataannya, menekankan pentingnya kolaborasi untuk menghadapi tantangan keberlanjutan saat ini. “SUSTAINABILITAS adalah rumah bagi TLFF, di mana kami bersama-sama melakukan kajian, merumuskan rekomendasi kebijakan, serta menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk menarik investasi dan memberdayakan komunitas,” ujarnya. Dia juga mengundang semua pemangku kepentingan yang peduli akan lingkungan untuk berkontribusi dalam semua kegiatan yang dilakukan oleh SUSTAINABILITAS, baik di Jakarta maupun di daerah lain seperti Tegal.
Peluang dan Tantangan dalam Pembiayaan Ekonomi Hijau
Menurut Satya Tripathi, Sekretaris Jenderal Global Alliance for a Sustainable Planet, Indonesia saat ini berada di persimpangan antara peluang dan tantangan dalam mencapai keberlanjutan. Dengan target Net Zero pada tahun 2030, TLFF hadir dengan konteks yang lebih baik dalam hal kebijakan, strategi, dan pelaksanaan di lapangan. “Indonesia memiliki potensi luar biasa dengan sumber daya alam yang melimpah, termasuk cadangan karbon yang diperkirakan mencapai 600 juta ton. Jika kita bergerak sekarang, keadilan tidak hanya akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga terhadap ekosistem yang ada,” jelasnya.
Dia menekankan bahwa langkah selanjutnya adalah menata diri dan membangun kolaborasi yang kuat demi fokus pada lingkungan dan pertumbuhan ekonomi hijau yang bermanfaat bagi semua. Hal ini penting untuk mencapai hasil yang diinginkan pada tahun 2030.
Pentingnya Kolaborasi dan Institusi dalam Mewujudkan Visi
Sudirman Said, Rektor Universitas Harkat Negeri, membuka diskusi dengan menyampaikan keyakinannya akan pentingnya kolaborasi dan institusi dalam mewujudkan ide-ide yang berdampak nyata. “Ide hanya akan membawa dampak yang signifikan jika diwadahi oleh institusi. Institusi-lah yang melahirkan kepemimpinan, kebijakan, dan tindakan yang diperlukan untuk keberlanjutan,” ujarnya. Dalam konteks ini, TLFF dapat berfungsi sebagai platform berbasis ekonomi hijau yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
Keterlibatan Para Pemangku Kepentingan dalam TLFF
Acara peluncuran TLFF dihadiri oleh sekitar 50 tokoh lingkungan yang memiliki pengalaman panjang di bidang keberlanjutan. Hasil dari diskusi tersebut akan menjadi dasar untuk langkah-langkah strategis dan nyata bagi TLFF, dengan visi mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2030 dan 2060. Ini juga diharapkan dapat mendorong peningkatan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia melalui prinsip-prinsip ekonomi hijau.
- Fasilitasi pembiayaan untuk proyek-proyek hijau
- Pendampingan teknis dan edukasi di sektor keberlanjutan
- Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil
- Pembangunan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau
- Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keberlanjutan
Dengan peluncuran TLFF, UHN berharap dapat mendorong inisiatif yang lebih luas dalam pembiayaan ekonomi hijau, di mana semua pihak berkontribusi untuk mencapai tujuan keberlanjutan yang lebih besar. Melalui kerjasama dan inovasi, TLFF berkomitmen untuk menjadi pendorong perubahan positif, tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk lingkungan global.
➡️ Baca Juga: Krisis Energi Global Meningkat, DEN Imbau Masyarakat untuk Bijak Menggunakan BBM




