Telkom Memprioritaskan Pelaksanaan Strategi TLKM 30 untuk Meningkatkan Kinerja Bisnis

Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, yang dikenal sebagai Telkom Group, merupakan perusahaan telekomunikasi digital terkemuka di Indonesia. Saat ini, perusahaan tengah berfokus pada pelaksanaan strategi transformasi yang dikenal dengan nama TLKM 30. Inisiatif ini dianggap sebagai langkah penting dalam upaya untuk memperkuat fundamental bisnis dan memastikan keberlanjutan dalam era digital yang semakin kompetitif.
Pentingnya TLKM 30 dalam Strategi Bisnis Telkom
Tahun 2026 menjadi salah satu titik krusial bagi Telkom Group. Dalam periode ini, perusahaan berencana untuk melakukan penataan menyeluruh terhadap portofolio bisnisnya. Langkah ini mencakup penguatan tata kelola perusahaan, restrukturisasi anak usaha, serta pembentukan strategic holding yang bertujuan untuk mendorong operational excellence dan mengoptimalkan nilai dari aset yang dimiliki.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyampaikan bahwa TLKM 30 dirancang sebagai strategi transformasi jangka menengah hingga tahun 2030. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan daya saing Telkom sebagai enabler ekosistem digital dengan standar global.
Transformasi untuk Meningkatkan Kinerja
Dengan menerapkan TLKM 30, Telkom berupaya untuk mengatur portofolio bisnis secara lebih terfokus dan memperkuat praktik tata kelola perusahaan. Hal ini bertujuan agar setiap unit bisnis dapat berkembang secara optimal, menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan.
Transformasi ini sejalan dengan agenda total governance reset yang dipraktikkan dalam pengelolaan BUMN, yang juga didorong oleh misi Danantara. Fokus utamanya adalah penguatan praktik tata kelola yang lebih transparan, prudent, dan disiplin dalam pengelolaan aset perusahaan.
- Normalisasi dan peningkatan kualitas aset
- Praktik pengeluaran yang akuntabel
- Penyelarasan pencatatan keuangan
- Peningkatan akurasi laporan perusahaan
- Pengelolaan sumber daya yang lebih efisien
Menjawab Tantangan Global dengan Efisiensi
Langkah-langkah ini dirancang untuk mempercepat efisiensi dalam pengelolaan sumber daya, yang pada gilirannya akan memperkuat fundamental bisnis Telkom, terutama di tengah tantangan ketidakpastian global dan kebutuhan akan kemandirian infrastruktur digital.
Telkom juga memastikan bahwa kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia dan Amerika Serikat menjadi prioritas utama, mengingat statusnya sebagai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE).
Progres Transformasi Melalui Spin-off
Sejak penerapan TLKM 30 pada pertengahan tahun lalu, sejumlah kemajuan transformasi telah terlihat. Salah satunya adalah pembentukan entitas baru, FiberCo, melalui spin-off sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF), yang juga dikenal sebagai Infranexia. Langkah ini merupakan awal dari upaya unlocking value pada sektor infrastruktur digital.
Dalam perannya, InfraNexia akan fokus pada pengembangan bisnis fiber, meningkatkan efisiensi operasional dan investasi, serta menjajaki peluang network sharing dan kemitraan strategis. Tujuannya adalah menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
Membuka Potensi Aset Infrastruktur
Di masa mendatang, entitas ini diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan baru bagi Telkom Group. Selain itu, Telkom juga berencana untuk mengeksplorasi potensi nilai dari aset infrastruktur lainnya, seperti bisnis data center dan tower melalui NeutraDC dan Mitratel.
Sebagai bagian dari transformasi ini, Telkom melakukan streamlining melalui penataan portofolio entitas usaha di dalam Telkom Group. Perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap entitas anak usaha untuk memastikan fokus pada core business di sektor telekomunikasi dan digital, serta menciptakan struktur organisasi yang lebih efisien.
Divestasi dan Penataan Portofolio Non-core
Implementasi awal dari upaya streamlining ini termasuk penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (CSPA) oleh PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra) untuk divestasi penuh atas PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta entitas anak usahanya, TelkoMedika. Langkah ini merupakan bagian dari penataan portofolio bisnis non-core di Telkom Group.
Di samping itu, Telkom juga memperkuat perannya sebagai strategic holding, dengan fokus pada fungsi value creation dan governance oversight. Dalam model ini, operasional bisnis dijalankan oleh entitas operating company yang menjadi penggerak utama di masing-masing lini usaha.
Empat Pilar Utama untuk Pertumbuhan Bisnis
Ke depan, Telkom Group berencana untuk memperkuat struktur bisnis melalui operating company yang akan fokus pada empat pilar utama sebagai mesin pertumbuhan perusahaan. Pilar-pilar tersebut meliputi:
- B2C (Business to Consumer)
- B2B ICT (Business to Business Information and Communication Technology)
- Digital Infrastructure
- International Business
Dengan struktur ini, Telkom berupaya memastikan setiap lini bisnis memiliki fokus yang lebih tajam dan mampu bergerak lebih lincah dalam mengoptimalkan potensi ekosistem digital di Indonesia. Langkah-langkah ini diharapkan akan membawa Telkom menuju era baru yang lebih kompetitif dan inovatif di pasar telekomunikasi global.
➡️ Baca Juga: Seri Realme 16 5G di Indonesia: Mulai Harga Rp5 Jutaan untuk Pengalaman Ponsel Cepat dan Andal
➡️ Baca Juga: Jenderal Agus Subiyanto, Panglima TNI, Siaga 1 Adalah Normal dan Fokus pada Penanganan Bencana