Mengungkap Penyalahgunaan Program Makan Bergizi Gratis: Fenomena ‘Ternak Yayasan’ dan Kecenderungan Bisnis yang Memprihatinkan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diposisikan sebagai jalan keluar untuk memperbaiki standar gizi penduduk dan mengatasi masalah stunting, saat ini menghadapi rintangan besar. Penyelidikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) telah menemukan bukti penyalahgunaan dalam implementasi program tersebut, dimana ada pihak yang menggunakan MBG untuk meraup keuntungan pribadi. Kegiatan mengkhawatirkan ini mencakup pembentukan yayasan palsu, atau yang biasa disebut “ternak yayasan,” dengan niat utama untuk mengelola sebanyak mungkin Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mengumpulkan keuntungan maksimal.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengungkapkan kecemasannya tentang fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa pada tahap awal penyelenggaraan program, pemerintah membuka peluang kemitraan untuk organisasi yang ingin berpartisipasi dalam penyediaan layanan dapur MBG. Prioritas diberikan kepada yayasan yang aktif dalam bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Kebijakan ini memiliki tujuan yang mulia, yaitu memberikan dukungan kepada organisasi sosial yang telah berkontribusi dalam membantu masyarakat, sekaligus melakukan peningkatan terhadap fasilitas yang mereka miliki. “Pada awalnya, mitra itu dalam bentuk CV atau PT. Tetapi, harus dalam bentuk yayasan. Yayasan pun itu ada syaratnya; harus yayasan pendidikan, sosial, keagamaan,” kata Nanik, menggambarkan bagaimana pemerintah berusaha menyaring pihak-pihak yang benar-benar memiliki komitmen sosial.
Namun, seiring berjalannya waktu, celah dalam sistem mulai dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Nanik mengakui bahwa muncul sejumlah pihak yang mendirikan yayasan semata-mata untuk mengelola dapur MBG. Bahkan, ada pihak yang berani mengelola banyak dapur sekaligus, dengan orientasi bisnis yang sangat kentara. Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai “ternak yayasan.”
“Tapi begitu Pak Presiden juga karena enggak enak selalu di jalan, ‘Pak, kapan MBG? Kapan MBG?’ Akhirnya target sangat tinggi sekali, muncullah ternak-ternak yayasan. Banyak orang memiliki lebih dari satu dapur,” imbuh Nanik, menjelaskan bagaimana tekanan untuk segera merealisasikan program MBG, mungkin secara tidak langsung, membuka peluang bagi praktik-praktik yang menyimpang.
Menurut Nanik, kondisi ini berpotensi menimbulkan kecemburuan di kalangan lembaga-lembaga sosial yang tulus. Lebih jauh lagi, praktik “ternak yayasan” ini menyimpang dari semangat awal program MBG, yang seharusnya berfokus pada peningkatan gizi masyarakat, bukan pada keuntungan pribadi. Dalam beberapa kasus, pengelolaan dapur MBG lebih berorientasi pada keuntungan, sehingga aspek fasilitas dan standar operasional kurang diperhatikan. Kualitas makanan yang disajikan pun bisa jadi dipertanyakan.
“Secara kepemilikan, dapur ini membuat orang iri karena munculnya bukan oleh yayasan sosial, pendidikan, atau keagamaan. Yang muncul adalah pengusaha-pengusaha berkedok Yayasan karena orientasinya bisnis,” jelas Nanik. Penyalahgunaan program makan bergizi gratis ini memang menjadi fenomena yang memprihatinkan dan perlu penanganan serius dari pemerintah.
➡️ Baca Juga: Pemberdayaan Ekonomi: Menko PM Muhaimin Iskandar Targetkan 30% Ruang Publik BUMN untuk UMKM
➡️ Baca Juga: Arsenal Terapkan Strategi Jual Pemain Kunci untuk Atasi Beban FFP di Bursa Transfer