KAI Tingkatkan Efisiensi dan Biaya Sistem Logistik Rel di Dryport KEK Industropolis Batang

Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero), bersama sejumlah mitra strategis termasuk PT Kawasan Industri Terpadu Batang, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda), serta Perumda Aneka Usaha Kabupaten Batang, baru saja menandatangani Nota Kesepahaman untuk mengembangkan sistem logistik berbasis rel di Dryport Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang pada hari Selasa, 21 April.
Membangun Sistem Logistik yang Terintegrasi
Kerja sama ini bertujuan untuk menciptakan sistem logistik yang lebih terintegrasi dan efisien, serta menangani tantangan tingginya biaya logistik nasional yang saat ini masih menjadi masalah. Dengan fokus pada pendekatan berbasis rel, distribusi barang diharapkan dapat dilakukan dengan lebih efisien, terukur, dan kompetitif.
Bobby Rasyidin, Direktur Utama KAI, mengungkapkan bahwa pengembangan dryport di Batang merupakan bagian dari visi besar untuk membangun ekosistem logistik nasional yang terintegrasi, menghubungkan kawasan industri hingga pelabuhan.
Integrasi antara Dryport dan Pelabuhan
“Di Batang, kami akan mengembangkan kawasan industri yang terhubung dengan kota mandiri. KAI berperan sebagai pengangkut barang dari dryport menuju pelabuhan, sementara Pelindo akan memastikan konektivitas ke pasar global. Melalui integrasi ini, kami berharap dapat mendorong penurunan biaya logistik dan meningkatkan daya saing,” jelas Bobby.
Ia juga menekankan bahwa saat ini biaya logistik di Indonesia berkisar antara 15% hingga di atas 20% dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih tinggi dibandingkan dengan standar global yang hanya berada di kisaran 7-8%. Hal ini menunjukkan adanya peluang besar untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
Dampak Penurunan Biaya Logistik
“Apabila kami dapat menurunkan biaya logistik secara signifikan, maka biaya produksi industri juga akan berkurang. Ini akan berdampak langsung pada daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” tambah Bobby.
Langkah tersebut diperkuat dengan strategi peningkatan kapasitas angkutan. Saat ini, KAI mengoperasikan gerbong dengan kapasitas rata-rata 50 ton, dan sedang dalam proses peningkatan menjadi 70 ton per gerbong. Dengan satu rangkaian yang terdiri dari 60 gerbong, kapasitas angkut dapat mencapai 4.200 ton dalam satu perjalanan.
Pengembangan Jalur Langsung Menuju Pelabuhan
Selain itu, KAI juga merencanakan pengembangan jalur langsung menuju pelabuhan untuk mengurangi hambatan operasional. Saat ini, distribusi barang menuju Pelabuhan Tanjung Priok masih menggunakan jalur eksisting dengan keterbatasan waktu operasional sekitar lima jam per hari. Dengan adanya jalur langsung, distribusi barang diharapkan dapat dilakukan dengan lebih fleksibel dan efisien.
Di sisi lain, KAI mengidentifikasi potensi besar di Pulau Jawa sebagai pusat pergerakan logistik nasional. Sekitar 60% aktivitas logistik Indonesia berlokasi di Pulau Jawa, dengan nilai biaya logistik yang diperkirakan mencapai Rp2.400–2.500 triliun per tahun. Jika efisiensi dapat ditingkatkan sebesar 30%, potensi penghematan bisa mencapai hingga Rp1.000 triliun.
Dryport sebagai Pusat Konsolidasi Logistik
Pengembangan Dryport KEK Industropolis Batang juga diarahkan untuk berfungsi sebagai pusat konsolidasi logistik di Jawa Tengah. Berdasarkan kajian internal, pergerakan kontainer di kawasan ini mencapai sekitar 10 juta per tahun dan diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kawasan industri.
“Kami mendorong dryport ini untuk menjadi agregator logistik yang tidak hanya melayani kawasan Batang, tetapi juga menjangkau wilayah Jawa Tengah secara lebih luas. Dengan jaringan lebih dari 600 stasiun yang dimiliki KAI di Pulau Jawa, potensi distribusi berbasis rel sangat besar,” tegas Bobby.
Kinerja Angkutan Barang KAI
Langkah ini juga didukung oleh kinerja angkutan barang KAI yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang Triwulan I 2026, KAI berhasil melayani angkutan barang sebanyak 14.948.442 ton, yang mencerminkan peran strategis kereta api dalam mendukung distribusi nasional.
Pada periode yang sama, angkutan peti kemas mencapai 1.371.036 ton, meningkat dari 1.196.600 ton pada Triwulan I 2025. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya pergeseran penggunaan moda transportasi yang lebih efisien, yaitu berbasis rel.
Peningkatan Ketepatan Waktu Operasional
Dalam aspek operasional, KAI juga mengalami perbaikan dalam ketepatan waktu. Ketepatan waktu keberangkatan angkutan barang tercatat mencapai 95,97% dan kedatangan 91,77%, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang masing-masing sebesar 95,89% dan 87,04%.
Dengan berbagai langkah strategis yang diambil, pengembangan sistem logistik berbasis rel di Dryport KEK Industropolis Batang diharapkan dapat memberikan solusi signifikan terhadap berbagai tantangan yang dihadapi dalam sektor logistik nasional. Dengan penekanan pada efisiensi dan integrasi, diharapkan biaya logistik dapat ditekan, sehingga memberikan dampak positif bagi daya saing industri Indonesia di kancah global.
➡️ Baca Juga: Jalur Sepeda di Jalan Siliwangi Kota Cirebon Terabaikan – Tonton Video Ini
➡️ Baca Juga: Michael B. Jordan Raih Penghargaan Best Actor di Oscar 2026 dengan Penampilan Gemilang



