Daya Beli Stabil, Wamenko Ekonomi Tegaskan Hanya Terjadi Pergeseran Konsumsi

Belakangan ini, isu penurunan daya beli masyarakat menjadi salah satu perbincangan hangat di berbagai kalangan. Namun, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, menegaskan bahwa isu tersebut tidak berdasar. Dalam pandangannya, yang terjadi saat ini adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat, bukan penurunan daya beli. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers setelah pertemuan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, di Jakarta.
Pernyataan Tegas Mengenai Daya Beli
Dalam sesi konferensi pers yang berlangsung di Kantor BPS, Dradjad menyampaikan pandangannya mengenai situasi ekonomi saat ini. Menurutnya, daya beli masyarakat Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Ia menegaskan bahwa data yang ada hanya mencerminkan pergeseran dalam cara masyarakat berbelanja dan mengkonsumsi barang dan jasa.
“Adanya anggapan bahwa daya beli melemah adalah hal yang sangat tidak tepat. Yang sebenarnya terjadi adalah pergeseran signifikan dalam pola konsumsi masyarakat,” ujarnya. Hal ini mencerminkan dinamika baru dalam perilaku belanja yang perlu dicermati lebih lanjut.
Indikator Pertumbuhan di Berbagai Sektor
Dradjad menambahkan bahwa klaim mengenai daya beli yang melemah tidak didukung oleh data yang ada. Justru, terdapat pertumbuhan yang positif di berbagai sektor, termasuk transportasi dan pariwisata. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pola konsumsi berubah, aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan baik.
Berdasarkan laporan BPS, sektor transportasi mengalami peningkatan yang signifikan, dengan jumlah penumpang angkutan domestik meningkat sebesar 8,09 persen, mencapai 2,70 juta penumpang sepanjang Agustus 2026. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin aktif menggunakan transportasi untuk perjalanan mereka.
Kenaikan Penumpang di Sektor Transportasi
Kenaikan tertinggi dalam sektor transportasi tercatat pada angkutan penyebrangan, dengan jumlah penumpang mencapai 4,66 juta, atau meningkat sebesar 20,13 persen dibandingkan tahun lalu. Ini adalah indikasi jelas bahwa masyarakat menunjukkan minat yang besar untuk bepergian.
Pariwisata yang Berkembang Pesat
Sektor pariwisata juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Laporan terbaru dari BPS menunjukkan bahwa jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2026 mencapai 104,30 juta, meningkat 11,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini adalah tanda bahwa masyarakat semakin tertarik untuk menjelajahi destinasi lokal.
- Transportasi domestik meningkat 8,09%.
- Kenaikan penumpang penyebrangan sebesar 20,13%.
- Pergerakan wisatawan nusantara mencapai 104,30 juta perjalanan.
- Peningkatan pariwisata sebesar 11,47% dibandingkan tahun lalu.
- Kegiatan konsumsi di restoran dan hotel juga mengalami lonjakan.
“Tingginya angka dalam sektor transportasi menunjukkan bahwa masyarakat saat ini sangat antusias untuk berwisata. Hal ini juga terlihat dari meningkatnya konsumsi di restoran dan hotel,” imbuh Wamenko Ekonomi.
Transaksi Digital yang Meningkat
Di sisi lain, sektor digital juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Transaksi menggunakan QRIS, sebagai salah satu metode pembayaran digital, tumbuh pesat dengan angka mencapai 67,22 persen secara tahunan. Ini menandakan bahwa masyarakat semakin beralih ke transaksi digital dalam aktivitas belanja mereka.
Perubahan Pola Belanja Masyarakat
Dradjad menambahkan, “Jika transaksi QRIS meningkat drastis, itu berarti ada banyak transaksi dan konsumsi yang terjadi.” Poin ini menggarisbawahi bahwa meskipun ada pergeseran dalam pola konsumsi, daya beli masyarakat tetap terjaga dengan baik.
Selain itu, transaksi belanja di platform daring juga mengalami peningkatan yang signifikan. Kepala BPS, Amalia, mengonfirmasi bahwa kecenderungan masyarakat saat ini beralih ke belanja online dibandingkan membeli secara langsung di toko. Hal ini mencerminkan perubahan perilaku belanja yang dipicu oleh kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan oleh platform digital.
Namun, baik Wamenko Ekonomi maupun Kepala BPS tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai data terbaru terkait peningkatan transaksi daring. Meski demikian, mereka sepakat bahwa perubahan dalam pola konsumsi ini mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap stabil.
Pergeseran Konsumsi yang Terpantau
“Pergeseran konsumsi ini tercermin dalam data yang diungkapkan oleh BPS. Oleh karena itu, kami dari pemerintah yakin bahwa daya beli masyarakat tetap dalam kondisi yang sangat baik,” tutup Dradjad dengan penuh keyakinan.
Secara keseluruhan, pernyataan dan data yang disampaikan oleh Wamenko Ekonomi memberikan gambaran yang lebih optimis tentang kondisi ekonomi saat ini. Daya beli masyarakat tidak hanya stabil, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran yang positif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.
➡️ Baca Juga: Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026: Temukan Tanggal Merah yang Tersisa
➡️ Baca Juga: Latihan Pemulihan Aktif yang Efektif untuk Mempercepat Pemulihan Tubuh Setelah Olahraga Berat




