Inflasi AS Meningkat, BI Berupaya Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Jakarta – Bank Indonesia (BI) terus berupaya untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya inflasi di Amerika Serikat (AS) yang melampaui perkiraan. Dalam kondisi ekonomi global yang tidak menentu, BI berkomitmen untuk memastikan mekanisme pasar berjalan secara efisien dan efektif.
Langkah Intervensi Bank Indonesia
Dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar, BI melakukan intervensi yang konsisten di pasar melalui beberapa instrumen keuangan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa langkah-langkah ini mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Erwin menekankan pentingnya intervensi ini untuk menstabilkan kondisi pasar dan mencegah fluktuasi nilai tukar yang berlebihan. Upaya ini juga ditujukan untuk memastikan bahwa nilai tukar rupiah mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
Pengelolaan Suku Bunga dan Likuiditas
BI tidak hanya fokus pada intervensi pasar, tetapi juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang. Dengan cara ini, mereka berusaha menjaga kecukupan likuiditas yang diperlukan dalam sistem keuangan. Koordinasi dan komunikasi yang intensif dengan pelaku pasar dan korporasi juga menjadi bagian dari strategi BI untuk mengatasi tantangan yang muncul akibat inflasi AS.
Inflasi AS dan Dampaknya Terhadap Suku Bunga
Rilis data inflasi AS menunjukkan bahwa inflasi Consumer Price Index (CPI) mengalami peningkatan tahunan menjadi 3,7 persen pada bulan September 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan konsensus pasar yang memprediksi inflasi berada di level 3,6 persen. Kenaikan ini berpotensi mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh The Fed.
Selain itu, inflasi inti di AS juga menunjukkan peningkatan, mencapai 2,6 persen tahunan, yang melebihi ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen. Kenaikan inflasi ini memberikan sinyal kepada pelaku pasar bahwa langkah-langkah moneter yang lebih ketat mungkin diperlukan untuk mengendalikan tekanan harga.
Ketidakpastian Geopolitik dan Dampaknya
Erwin juga mengungkapkan bahwa ketidakpastian yang berkepanjangan mengenai konflik di Timur Tengah telah menyebabkan harga minyak tetap tinggi, mencapai lebih dari 105 dolar AS per barel. Hal ini tentunya meningkatkan risiko fiskal di masa mendatang, dan dapat memengaruhi stabilitas keuangan global.
- Inflasi CPI AS meningkat menjadi 3,7 persen pada September 2026.
- Inflasi inti mencapai 2,6 persen, melebihi ekspektasi pasar.
- Harga minyak bertahan di atas 105 dolar AS per barel akibat ketidakpastian geopolitik.
- Risiko fiskal meningkat seiring dengan fluktuasi harga komoditas.
- Intervensi BI meliputi transaksi NDF dan pembelian SBN.
Pergerakan Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi
Indeks dolar AS (DXY) mengalami lonjakan ke level tertinggi sejak Mei 2025, mencerminkan penguatan mata uang tersebut di tengah ketidakpastian pasar. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi US Treasury tenor 2 tahun juga meningkat sebesar 12 basis poin menjadi 4,90 persen. Kenaikan ini menambah tekanan pada pasar negara berkembang yang berisiko mengalami arus keluar dana.
Erwin menjelaskan bahwa meningkatnya sentimen risk-off di pasar global turut berkontribusi pada penguatan dolar AS. Hal ini memicu arus keluar dana dari portofolio aset negara berkembang, termasuk Indonesia, di tengah lonjakan yield obligasi.
Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Eksternal
Meski menghadapi tantangan eksternal, pergerakan rupiah umumnya masih sejalan dengan tren mata uang regional lainnya. Dalam periode kuartal ini, rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,17 persen dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan dari dolar AS, rupiah tetap menunjukkan ketahanan terhadap fluktuasi yang lebih besar.
Penting untuk dicatat bahwa cadangan devisa Indonesia tetap terjaga di level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026. Ini memberikan ruang bagi BI untuk melakukan intervensi lebih lanjut jika diperlukan, demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar.
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari Kamis tercatat melemah sebesar 45 poin atau 0,25 persen, berada di level Rp17.948 per dolar AS. Angka ini menunjukkan perbandingan dengan penutupan sebelumnya di Rp17.903 per dolar AS. Meskipun ada penurunan, BI berkomitmen untuk terus memantau dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga nilai tukar tetap stabil.
Dalam situasi ini, peran BI sangat krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan bahwa perekonomian domestik tidak terganggu oleh fluktuasi eksternal yang tidak terduga. Upaya-upaya ini diharapkan dapat memastikan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia tetap pada jalurnya, meskipun dalam konteks tantangan global yang semakin kompleks.
➡️ Baca Juga: Pemda KBB Alokasikan Rp16 Miliar untuk Insentif Ketua RT dan RW demi Peningkatan Kesejahteraan
➡️ Baca Juga: City Dengan Percaya Diri Mengunjungi Madrid untuk Pertandingan Berikutnya




