Rekening Massal Dibuka, Ekonom Peringatkan Risiko Terkait Rekening Dormant

Program pembukaan rekening massal di Indonesia baru-baru ini menjadi sorotan publik, bukan hanya karena besarnya jumlah rekening yang dibuka, tetapi juga karena implikasi yang lebih dalam terhadap inklusi keuangan masyarakat. Sementara dua ratus juta rekening mungkin terdengar mengesankan, tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan individu untuk menggunakan rekening tersebut secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami Rekening Dormant dalam Konteks Inklusi Keuangan
Dalam upaya menciptakan sistem keuangan yang inklusif, pemerintah dan sektor keuangan harus memastikan bahwa rekening yang dibuka tidak hanya murah dan mudah diakses, tetapi juga mampu berfungsi secara optimal dalam ekosistem pembayaran nasional. Hal ini termasuk pentingnya perlindungan data yang kuat dan menghindari ketergantungan pada satu institusi keuangan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menekankan bahwa pembukaan rekening massal tidak secara otomatis berarti bahwa seluruh masyarakat telah terintegrasi dalam sistem keuangan. “Setelah kepemilikan rekening, tahap selanjutnya adalah penggunaan rekening tersebut dan partisipasi ekonomi,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun rekening telah dibuka, tantangan utama adalah memastikan bahwa rekening tersebut aktif dan digunakan.
Pentingnya Literasi Keuangan
Fakhrul juga menggarisbawahi perlunya literasi keuangan sebagai bagian dari kebijakan ini. Dengan banyaknya penerima yang baru pertama kali terlibat dalam sistem keuangan formal, edukasi mengenai penggunaan rekening dan hak-hak konsumen sangatlah krusial. Tanpa pengetahuan yang memadai, masyarakat berisiko mengalami kesulitan dalam memanfaatkan alat keuangan ini secara optimal.
Rencana pemerintah untuk memberikan rekening bank secara otomatis bagi warga yang berusia 17 tahun ke atas perlu dilihat lebih jauh dari sekadar langkah inklusi keuangan. Kebijakan ini bisa menjadi bagian penting dari evolusi kedaulatan moneter di era digital, di mana akses terhadap uang semakin ditentukan oleh infrastruktur yang tersedia.
Dasar Hukum dan Kedaulatan Moneter
Fakhrul menjelaskan bahwa gagasan ini memiliki akar yang dalam dalam arsitektur moneter Indonesia, yang tercantum dalam UUD 1945. Pasal 23B menegaskan pentingnya mata uang dalam konstitusi, dan UU Mata Uang menyatakan rupiah sebagai simbol kedaulatan negara serta alat pembayaran yang sah. Selain itu, UU Bank Indonesia memberikan mandat kepada Bank Indonesia untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.
“Kedaulatan moneter tidak hanya berbicara tentang memiliki mata uang sendiri. Dalam konteks ekonomi modern, penting untuk mempertanyakan apakah seluruh warga negara dapat mengakses infrastruktur yang memungkinkan mereka menggunakan uang tersebut,” jelasnya. Ini menyoroti pentingnya akses yang merata ke infrastruktur moneter.
Monetary Citizenship: Hak dan Akses
Konsep yang disebutnya sebagai “monetary citizenship” atau kewarganegaraan moneter menunjukkan bahwa warga negara tidak hanya memiliki hak untuk menggunakan mata uang nasional, tetapi juga harus memiliki akses dasar terhadap infrastruktur moneter dan sistem pembayaran. Ini semakin penting dalam partisipasi aktif dalam perekonomian modern.
“Di abad ke-20, akses terhadap uang lebih banyak berarti kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan uang tunai. Namun, di abad ke-21, akses tersebut mencakup kemampuan untuk terhubung dengan tempat di mana uang tersebut berfungsi,” tambahnya. Dengan kata lain, akses keuangan kini mencakup lebih dari sekadar kepemilikan uang, tetapi juga kemampuan untuk menggunakannya secara efektif dalam berbagai transaksi.
Program Pembukaan Rekening sebagai Infrastruktur Ekonomi
Fakhrul menilai bahwa program pembukaan rekening yang diinisiasi oleh pemerintah dapat menjadi langkah penting dalam memastikan akses keuangan sebagai bagian dari infrastruktur dasar kehidupan ekonomi masyarakat. “Dahulu, negara berusaha memastikan bahwa rupiah sampai ke tangan rakyat. Kini, tantangannya adalah memastikan bahwa rakyat memiliki akses ke tempat di mana rupiah tersebut beredar,” ujarnya.
Dalam konteks ini, kedaulatan moneter tidak hanya tentang memiliki mata uang sendiri, tetapi juga tentang memastikan bahwa seluruh warga negara dapat berpartisipasi dalam sistem moneternya. Pembukaan rekening massal adalah langkah pertama menuju pembangunan infrastruktur yang memfasilitasi akses ini.
Persiapan Pemerintah untuk Rekening Massal
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan mekanisme untuk membuka rekening massal bagi seluruh masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat membawa lebih banyak orang ke dalam sistem keuangan formal, sekaligus memperkuat perekonomian nasional.
Namun, untuk memastikan keberhasilan inisiatif ini, penting bagi pemerintah untuk bekerja sama dengan lembaga keuangan dan organisasi masyarakat sipil dalam menyusun program literasi keuangan yang efektif. Melalui pendidikan yang tepat, masyarakat dapat memahami manfaat dan penggunaan rekening mereka, sehingga mengurangi risiko terbentuknya rekening dormant.
Risiko Rekening Dormant dan Solusi yang Diperlukan
Rekening dormant atau rekening yang tidak aktif merupakan salah satu risiko yang mungkin muncul dari program pembukaan rekening massal. Jika masyarakat tidak menggunakan rekening yang telah dibuka, maka tujuan inklusi keuangan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, penting bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi yang dapat meminimalisir risiko ini.
- Memberikan edukasi berkelanjutan tentang penggunaan rekening.
- Mengembangkan fitur yang menarik dan bermanfaat dalam aplikasi perbankan.
- Menawarkan insentif bagi pengguna untuk melakukan transaksi.
- Mendorong kolaborasi antara lembaga keuangan dan komunitas lokal.
- Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap penggunaan rekening.
Dengan pendekatan yang tepat, program pembukaan rekening massal dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan akses keuangan dan mendorong partisipasi ekonomi. Namun, semua itu bergantung pada komitmen untuk tidak hanya membuka rekening, tetapi juga memastikan bahwa rekening tersebut digunakan secara aktif.
Menjaga Keseimbangan antara Akses dan Penggunaan
Penting untuk diingat bahwa meskipun pembukaan rekening massal adalah langkah positif, tantangan utama terletak pada menjaga keseimbangan antara akses dan penggunaan. Tanpa strategi yang tepat, rekening yang dibuka berpotensi menjadi dormant dan gagal memenuhi tujuan inklusi keuangan. Oleh karena itu, perhatian yang serius harus diberikan pada bagaimana masyarakat dapat didorong untuk menggunakan rekening mereka.
Inisiatif pemerintah dalam menyediakan rekening massal harus diimbangi dengan pendekatan yang menekankan pada literasi keuangan dan pemahaman yang mendalam tentang manfaat dari penggunaan rekening. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya memiliki rekening, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam sistem keuangan yang lebih luas.
Melalui kombinasi berbagai strategi yang melibatkan edukasi, insentif, dan kolaborasi, kita dapat mengurangi jumlah rekening dormant dan memastikan bahwa program pembukaan rekening massal benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat luas. Di era digital saat ini, akses keuangan yang efektif adalah kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
➡️ Baca Juga: Cek Desil Bansos 2026 Melalui HP dengan NIK KTP Secara Cepat dan Mudah
➡️ Baca Juga: Retret Magelang, Ketua DPRD Kaltara Dukung Penguatan Harmoni Nasional dan Daerah




