SDM Indonesia Harus Adaptif untuk Menghadapi Percepatan Teknologi AI

Jakarta – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi telah mengubah cara kerja manusia, sekaligus meningkatkan tuntutan terhadap kompetensi tenaga kerja. Dalam menghadapi transformasi ini, sumber daya manusia (SDM) Indonesia dituntut untuk tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga terus meningkatkan keterampilan agar dapat beradaptasi dan menciptakan nilai tambah. Hal ini menjadi fokus utama dalam Indonesia Human Capital and Beyond Summit (IHCBS) 2026, yang mendorong perubahan paradigma pengelolaan SDM dari sekadar sumber daya manusia menjadi modal manusia. SDM dianggap sebagai aset utama dalam menghadapi perubahan teknologi dan meningkatkan produktivitas.
Tantangan dan Peluang di Era AI
Yunus Triyonggo, Ketua Steering Committee GNIK, menyatakan bahwa tantangan ini semakin mendesak karena produktivitas tenaga kerja Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. “Jika kita bandingkan dengan Malaysia, dalam satu jam kerja, pekerja di Indonesia menghasilkan sekitar 13 hingga 15 dolar AS, sementara Malaysia mencapai 26 hingga 27 dolar AS,” ungkap Yunus dalam acara Media Day IHCBS 2026 di Wayang Bistro, Jakarta.
Kondisi ini menggambarkan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak bisa hanya mengandalkan pendidikan formal atau pelatihan konvensional. Pekerja harus memiliki keterampilan untuk beradaptasi dengan teknologi, menciptakan nilai tambah, serta meningkatkan produktivitas. “BEYOND berarti kita melihat modal manusia tidak hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai potensi bangsa untuk meningkatkan produktivitas,” tambahnya.
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi
Perkembangan AI menghadirkan perubahan signifikan di dunia kerja. Teknologi seperti AI asisten, augmented AI, dan agentic AI berpotensi mengubah berbagai jenis pekerjaan. Dalam konteks ini, SDM tidak cukup hanya berfungsi sebagai pengguna teknologi. Pekerja perlu memahami bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses kerja, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta menciptakan metode kerja baru yang lebih produktif.
Suwardi Luis, pendiri dan CEO GML serta pendiri QuBisa, menekankan bahwa penerapan AI harus tetap berfokus pada manusia. Tema IHCBS 2026, “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity,” menempatkan AI dan digitalisasi sebagai alat untuk meningkatkan kapasitas manusia, bukan sekadar menggantikannya.
Tiga Elemen Penting dalam Menghadapi AI
Menurut Suwardi, terdapat tiga elemen krusial yang harus berjalan beriringan dalam menghadapi perubahan teknologi, yaitu:
- People: Keterampilan manusia harus terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi.
- Technology: Teknologi harus dirancang untuk meningkatkan produktivitas manusia.
- Purpose: Semua upaya harus diarahkan untuk mencapai tujuan yang memberikan nilai tambah.
Karena itu, penting bagi pekerja untuk membangun kebiasaan upskilling dan reskilling. Keterampilan teknis harus dilengkapi dengan kemampuan yang sulit digantikan oleh mesin, seperti kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, dan kemampuan memecahkan masalah.
Keterhubungan antara Pendidikan dan Industri
Yunus juga menyoroti bahwa perubahan teknologi menuntut kebutuhan mendesak untuk upskilling, reskilling, serta link and match antara pendidikan dan industri. Menurutnya, pendidikan dan dunia industri harus semakin terhubung agar kompetensi lulusan SMK, politeknik, dan perguruan tinggi selaras dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
IHCBS 2026 tidak hanya dirancang sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai gerakan yang menghasilkan aksi nyata. Agenda ini terhubung dengan blueprint pembangunan SDM yang berfokus pada employability dan entrepreneurial capability. “Target kita tidak hanya aktivitas, tetapi juga ada output dan outcome. Setelah acara ini, harus ada gerakan-gerakan yang bisa dirasakan,” ungkap Suwardi.
Program Pengembangan SDM yang Berkelanjutan
Selama dua tahun penyelenggaraan sebelumnya, IHCBS telah menjangkau sekitar 300.000 SDM di Indonesia melalui berbagai program pengembangan kompetensi, termasuk pelatihan AI gratis untuk lebih dari 20.000 orang. Tahun ini, IHCBS juga akan menerbitkan buku sebagai bentuk warisan, di mana materi dan gagasan dari forum akan dirangkum dengan bantuan AI sebelum diverifikasi oleh para ahli.
Peran Kesehatan dalam Meningkatkan Produktivitas
Dalam konteks menjaga produktivitas, Michelle C. Tjindarbumi, Associate Director Marketing & Sales Mayapada Hospital Group, menyatakan bahwa produktivitas SDM sangat terkait dengan kondisi fisik dan mental. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi dalam bidang kesehatan juga menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas tenaga kerja. “Kami ingin menjadi mitra bagi perusahaan dan modal manusia, tidak hanya dalam aspek kuratif, tetapi juga preventif dan dengan AI bisa menjadi prediktif, agar produktivitas tetap terjaga,” ujarnya.
Kemampuan Bahasa Inggris sebagai Keterampilan Kunci
Sementara itu, Yeni Widiyasari, GM Business Support International Test Center, menekankan bahwa kemampuan bahasa Inggris tetap menjadi kompetensi penting di tengah perkembangan AI. Kemampuan berbahasa Inggris dan sertifikasi berstandar internasional diperlukan agar tenaga kerja dapat beradaptasi dengan teknologi dan bersaing di lingkungan kerja global.
Menjadi SDM yang Adaptif di Era AI
Di akhir, menghadapi era AI bukan hanya sekadar menguasai perangkat atau aplikasi baru. SDM Indonesia perlu mengembangkan pola pikir adaptif, berkomitmen untuk terus belajar, mampu bekerja sama dengan teknologi, dan tetap mengasah kemampuan manusia yang menjadi keunggulan kompetitif. IHCBS 2026 dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September 2026, dengan target sekitar 6.000 peserta. Dengan delapan track, melibatkan 102 komunitas HR, serta sekitar 100 penyedia solusi HR, AI, dan digitalisasi, forum ini bertujuan untuk mendorong SDM Indonesia agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pihak yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah.
➡️ Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp16.000, Kini Menjadi Rp2,809 Juta per Gram pada Senin Pagi
➡️ Baca Juga: Minuman Kopi Lemon Viral di Media Sosial, Apakah Efektif Menurunkan Berat Badan?




