Perseteruan antara warga net Indonesia dan Malaysia kembali mencuat, kali ini merambah ke ranah kuliner. Sejumlah merek makanan, minuman, serta restoran dari Indonesia yang beroperasi di Malaysia terlibat setelah sebuah unggahan di Threads menyerukan aksi boikot terhadap produk-produk tersebut. Fenomena ini mengundang perhatian yang luas di kalangan pengguna media sosial.
Apa yang Memicu Seruan Boikot?
Seruan untuk memboikot produk kuliner Indonesia di Malaysia muncul di tengah semakin memanasnya diskusi antara kedua negara. Isu ini meluas dari persaingan di media sosial hingga sepak bola, dan kemudian menyentuh merek-merek kuliner Indonesia yang memiliki kehadiran di Negeri Jiran. Pemicu utama dari seruan boikot ini berkaitan dengan klaim adanya konten dari pihak Indonesia yang dianggap menghina Raja Malaysia, meskipun klaim tersebut belum terverifikasi secara independen.
Produk Kuliner Indonesia yang Diboikot
Menariknya, daftar produk yang termasuk dalam seruan boikot ini tidak hanya mencakup makanan kemasan. Banyak juga jaringan kopi, gerai minuman, serta restoran Indonesia yang beroperasi di Malaysia. Hal ini menunjukkan bagaimana ketegangan di media sosial dapat dengan cepat berimbas pada sektor konsumsi, di mana merek-merek yang sebelumnya bersaing dalam bisnis dapat menjadi sasaran saat sentimen nasionalisme sedang menguat.
Daftar Merek Kuliner yang Diboikot
Di Threads yang viral pada tanggal 5 Oktober 2026, terdapat beberapa produk kuliner Indonesia yang diserukan untuk diboikot, antara lain:
- Indomie
- Kenangan Coffee
- Ai-Cha
- MOMOYO
- Sari Ratu
Agar lebih menarik, mari kita bandingkan produk-produk yang terlibat dalam boikot ini dengan kompetitor serupa dari Malaysia yang mungkin menjadi alternatif bagi konsumen.
1. Indomie vs Mamee Chef
Indomie adalah salah satu merek mie instan paling terkenal dari Indonesia yang disebut dalam seruan boikot. Merek dari Indofood ini telah lama dikenal di Malaysia dan menawarkan berbagai varian yang disesuaikan untuk konsumen di sana. Sebagai alternatif lokal, Mamee Chef, produk dari Mamee Double-Decker, bersaing di kategori mie instan dengan karakter rasa yang berbeda.
Indomie memiliki beragam rasa yang sudah sangat familiar bagi konsumen Indonesia, seperti Mie Goreng, Soto, dan Kari. Sementara itu, Mamee Chef menonjolkan cita rasa yang terinspirasi oleh masakan Malaysia dan Asia, termasuk Curry Laksa, Lontong, dan Creamy Tom Yam.
2. Kenangan Coffee vs ZUS Coffee
Kenangan Coffee, jaringan kedai kopi asal Indonesia, juga terdaftar dalam merek yang diserukan untuk diboikot. Kedai kopi ini telah berekspansi ke Malaysia dan menawarkan berbagai pilihan minuman kopi maupun non-kopi. ZUS Coffee menjadi salah satu nama yang sering dibandingkan sebagai kompetitor lokal dalam segmen yang sama.
Kenangan Coffee mengusung konsep kopi modern dengan cita rasa yang terinspirasi dari selera Asia, sementara ZUS Coffee hadir dengan positioning sebagai jaringan kopi Malaysia yang menawarkan specialty coffee dengan harga terjangkau.
3. Ai-Cha Cream & Tea vs Tealive
Ai-Cha Ice Cream & Tea adalah merek asal Indonesia yang mengombinasikan es krim dan minuman teh. Brand ini berkembang pesat di Malaysia, dengan banyak outlet yang dibuka di berbagai wilayah. Di sisi lain, Tealive menjadi salah satu merek Malaysia yang kuat sebagai alternatif jika produk kuliner Indonesia ini diboikot.
Kedua merek ini menyasar konsumen yang mencari minuman kekinian dengan pilihan rasa beragam. Namun, Ai-Cha memiliki identitas yang kuat pada kombinasi es krim dan teh, sedangkan Tealive lebih dikenal sebagai jaringan minuman teh dan bubble tea asal Malaysia.
4. MOMOYO vs Coolblog
MOMOYO adalah merek dari Indonesia yang menawarkan es krim, minuman manis, fruit tea, dan produk dessert lainnya. Di Malaysia, MOMOYO mulai membuka outlet pada tahun 2024 dan telah berkembang sebagai salah satu pemain di kategori ini. Coolblog, merek Malaysia yang bisa sejajar, juga menyasar pasar minuman dan dessert dengan harga yang terjangkau.
Meskipun tidak menawarkan produk yang identik, MOMOYO memiliki daya tarik pada es krim dan berbagai kreasi minuman yang mengikuti tren. Sementara itu, Coolblog lebih dikenal dengan pilihan smoothies, yogurt, fruit drinks, dan milk tea.
5. Sari Ratu vs Restoran Masakan Melayu Malaysia
Berbeda dari produk kemasan atau minuman kekinian, Sari Ratu adalah restoran yang menyajikan masakan Padang dan kuliner Indonesia. Oleh karena itu, sulit untuk membandingkannya dengan satu merek tertentu. Pembanding yang lebih relevan adalah restoran lokal Malaysia yang menawarkan masakan Melayu dan nasi dengan lauk-pauk.
Sari Ratu dikenal dengan konsep nasi Padang yang memiliki berbagai pilihan lauk seperti rendang, ayam, gulai, dan sambal. Di sisi lain, Malaysia memiliki banyak restoran masakan Melayu yang juga menyajikan menu nasi dengan beragam lauk.
Isu Boikot Bukan Larangan Resmi
Penting untuk dicatat bahwa seruan boikot produk kuliner Indonesia ini berasal dari pengguna media sosial Malaysia. Unggahan tersebut menyebutkan dugaan penghinaan terhadap Raja Malaysia sebagai salah satu alasan munculnya seruan tersebut. Namun, sumber unggahan yang dianggap menghina belum terverifikasi secara independen, sehingga klaim tersebut sebaiknya tidak diperlakukan sebagai fakta yang sudah terbukti.
Walaupun demikian, hubungan dagang antara Indonesia dan Malaysia tetap berjalan. Kedua negara masih memiliki kepentingan ekonomi yang signifikan, termasuk dalam perdagangan lintas batas dan sektor pangan. Selain itu, banyak merek yang beroperasi di Malaysia menggunakan sistem franchise atau melibatkan operator lokal, yang berarti boikot terhadap sebuah merek tidak hanya akan berdampak pada perusahaan asal, tetapi juga akan mempengaruhi pekerja, mitra usaha, pemasok, dan pemilik gerai di Malaysia.
Positioning Indonesia di Pangsa Pasar Malaysia
Walaupun terdapat alternatif lokal, produk kuliner Indonesia yang beroperasi di Malaysia tetap memiliki daya saing. Beberapa merek yang terlibat dalam seruan boikot ini telah membangun basis konsumen dan jaringan gerai yang kuat di Negeri Jiran. Contohnya, Indomie tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga telah dipasarkan di lebih dari 100 negara, bahkan menjadi merek mie instan yang paling banyak dipilih di dunia menurut Consumer Reach Points dalam Kantar Brand Footprint.
Kekuatan produk Indonesia tidak hanya terletak pada nama merek, tetapi juga pada cita rasa yang terinspirasi dari kuliner Nusantara, menjadi salah satu pembeda saat bersaing dengan produk lokal Malaysia. Oleh karena itu, munculnya alternatif lokal Malaysia tidak serta-merta berarti produk Indonesia akan kehilangan pasarnya. Pilihan konsumen tetap dipengaruhi oleh rasa, harga, lokasi, kebiasaan, dan loyalitas terhadap merek.
Viralnya seruan boikot ini juga menunjukkan bahwa persaingan merek di media sosial bisa bersinggungan dengan sentimen nasionalisme. Namun, seruan dari satu akun media sosial tidak bisa dianggap sebagai representasi seluruh konsumen Malaysia. Bagaimana pendapat Anda tentang isu ini?
➡️ Baca Juga: Ayah Vidi Aldiano Pasca Pemakaman: Kehilangan Hiburan Sabtu, Ungkap Rasa Duka
➡️ Baca Juga: Jadwal dan Live Streaming Pertandingan Indonesia vs Singapura di FIFA ASEAN Cup 2026
