Gus Dur Masuk Lewat Dapur

Jan 3, 2016

In:Kabar Buku

Orang pertama yang disowani Gus Dur segera setelah beliau menjadi presiden adalah Almarhum Kiai Abdullah Salam di Kajen, Pati, yang lebih akrab dipanggil Mbah Dullah. Saat mendengar Gus Dur hendak bertandang ke rumahnya, awalnya Mbah Dullah keberatan, sebab saat itu Gus Dur sudah menjadi umara (penguasa). Tetapi pada akhirnya Mbah Dullah bilang: “Kalau Gus Dur datang ke sini sebagai presiden, silakan lewat pintu depan. Kalau datang ke sini sebagai saudara, silakan lewat pintu belakang.” Gus Dur pun bertandang ke rumah Mbah Dullah yang sederhana melalui pintu dapur, melewati jemuran-jemuran cucian. Saat bertemu Mbah Dullah, Gus Dur segera bersimpuh mencium tangan Mbah Dullah seraya berkata dalam bahasa Jawa halus: “Niki kulo Durrohman, Mbah. Sanes presiden. (Ini saya Durrohman, Mbah. Bukan presiden).”

Mbah Dullah adalah contoh langka seorang pribadi yang mampu menetapi dharmanya sebagai seorang ulama, yang selayaknya menjaga jarak dengan penguasa dan kekuasaan. Di masa lampau, seorang raja sering kali harus sowan sendiri ke padepokan seorang brahmana atau resi jika berhasrat mengalap berkah atau nasihat. Sungguh sudah sangat jarang sosok seperti Mbah Dullah di zaman sekarang. Dan Gus Dur adalah salah satu contoh bagaimana selayaknya seorang negarawan bersikap terjadap seorang ulama, kendati beliau saat itu adalah orang nomor satu di negara ini. Kepada beliau berdua: Al-Faatihah!

Leave a Reply