Archive for the ‘Resensi’ Category

Judul tulisan saya ini serius. Jika Anda Pecinta Pacar Merah Indonesia, roman politik karya Matu Mona yang mengisahkan petualangan Tan Malaka, sebaiknya jangan baca Tan : Sebuah Novel karya Hendri Teja. Jika nekad, maka Anda akan menerima tamparan kuat melalui aksi-aksi mempermalukan Bapak penggurat konsep Republik Indonesia yang pertama ini. Pada Tan, kelegendarisan Tan Malaka dikoyak-moyak.

Lewat literatur Tan Malaka, baik kumpulan gagasan, analisis kehidupan, sampai fiksi – sekian lama publik disuguhkan heroism perjuangan, misterius jejak langkah, dan tragedi kematiannya. Tiga hal ini yang membentuk Tan Malaka sebagai sosok legendaris di benak publik. Apalagi jika sempat membaca roman Pacar Merah Indonesia, maka kelegendarisan Tan Malaka akan bertambah lewat penisbatkan kelihaian tiada tanding berikut ilmu kesaktian tiada lawan.

Nah! Hal-hal serupa Pacar Merah Indonesia ini tidak ada dalam Tan. Bahkan dalam banyak sisi, Tan seolah-olah memperolok-olok sosok sang Pacar Merah Indonesia. Serius! Tan Malaka dalam Tan, digambarkan sebagai sosok peragu, minder, dan gagap di hadapan wanita. Biar saya tukilkan sedikit isi novel ini :

“Aku tertunduk, kemudian kulihat ada pensil dan buku catatan menyembul dari kantong rompinya. Aku salah mengira. Lelaki itu bukan seorang pejabat penting di sekolah, paling-paling pekerjaannya hanya staf administrasi. Celakanya, aku tetap saja minder, tak dapat berkeras di hadapannya.”

Nah, kisah-kisah Tan sebagai sosok peragu, minder, dan gagap bertebaran di novel sini. Tapi satu yang pasti, Tan tidak pernah berhenti. Tidak pernah menyerah. Barangkali ini yang membuat Tan tidak terjerumus menjadi pecundang.

Apa lagi? Jika Pacar Merah adalah sosok yang membuat zaman bergejolak, maka sebaliknya Tan adalah produk dari zaman. Setelah terbentur, terbentur, terbentur, baru akhirnya Tan terbentuk dan mengangkat kapak untuk menghancurkan berhala-berhala kapitalis. Tan Malaka dalam Tan lebih merupakan sosok yang digerakan dan kemudian menggerakan zaman. Konsepsi aksi-reaksi hadir di sini. Jadi bukan laksana superman yang ujug-ujug sudah heroik seperti Pacar Merah. Barangkali untuk menegaskan hal ini, si penulis pada halaman depan sudah menukil lirik Sunset di Tanah Anarki-nya Superman Is Dead (Superman Sudah Mati).

O, hatimu beku, serta jiwamu yang lelah

Tak henti lawan dunia, dengan mimpi besar untuk cinta

Dan jalanmu tuk pulang, di ujung waktu karna da cahaya

Itulah aku, raihlah mimpimu

Saya menebak, di sinilah gambaran si penulis akan sosok Tan Malaka. Bahwa Tan Malaka bukan Pacar Merah, bukan superman. Tan Malaka hanya seorang anak bangsa yang lugu, tetapi cerdas akan ikhwal yang menindas bangsanya, berikut sejumput kenekadan untuk mengambil peranan sebagai penentang kolonialisme dan imperialism.

Dalam konteks ini, seolah penulis ingin bicara bahwa Tan Malaka bukan di langit, tetapi di bumi. Setiap anak bangsa, dengan benturan-benturan-benturan, berpotensi terbentuk untuk memiliki keinsyafan dan semangat juang selayak Tan Malaka.

Bagaimana dengan kualitas narasinya? Kualitas Tan sepertinya tidak diragukan, karena konon sebelum terbentuk menjadi Tan, novel ini sebelumnya adalah Memoar Alang-alang yang terbentur-terbentur-terbentur, pemenang unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2010. Butuh waktu 4-5 tahun, sehingga akhirnya penulis merilisnya dengan judul baru.

Perkara jalan cerita, saya tidak akan banyak bicara. Jika Pacar Merah  berkisah perihal petualangan Tan Malaka melarikan diri dari sergapan intelejen Belanda, Amerika dan Inggris. Maka Tan, memotret perjalanan Tan Malaka dari semasa kuliah di Haarlem sampai dengan manuver-manuvernya mencegah pemberontakan rakyat 1926-1927, yang kemudian menjadi malapetaka pertama dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa di abad XX.

Demikian reviuw saya terkait Tan: Sebuah Novel. Semoga bisa sedikit memberi gambaran bagi para pencari buku bagus di bulan ini.

***

Maya Andrayani 

diambil dari Ruang Baca Tempo

https://indonesiana.tempo.co/read/63581/2016/02/22/andrayanimaya/pecinta-pacar-merah-jangan-baca-tan