Archive for the ‘Pengarang’ Category

Hendri Teja adalah putra Minangkabau kelahiran Batavia yang gandrung menulis sejak berseragam Merah-Putih. Belakangan aktif sebagai peneliti di Sang Gerilya Institute (S@GI) dan mengabdi sebagai aktivis buruh di Pengurus Besar Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia (GASBIINDO). Setelah berpindah-pindah kota, akhirnya ia memutuskan untuk menetap di Bogor, Jawa Barat. Ia bisa dihubungi secara personal melalui Twitter @hendriteja, Facebook https://www.facebook.com/hendri.teja.3, dan email hendriteja2029@gmail.com.

Ersta Andantino lahir di Nganjuk, 20 Agustus 1970. Pernah kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Kesenian Jakarta. Aktif menulis cerita pendek sejak tahun 1988 di media massa Hai, Femina, Sekar, Kompas, dan Story. Tahun 1993, puisinya terbit dalam antologi puisi tentang lingkungan hidup berjudul Cerita dari Hutan Bakau. Tahun 2013 terbit kumpulan puisinya sendiri dengan judul Pancasila Mencinta. Tahun 2014 puisinya turut dalam antologi puisi 8 Tahun Lumpur Lapindo, Gemuruh Ingatan. Novel pertamanya yang terbit adalah Saat Pulang, tahun 2005. Tahun 2011 ia menerbitkan novel silat dengan judul Karang, Cahaya Jingga di Ufuk Timur. → lanjut baca

Raden Mas Ngabehi Sri Hadidjojo lahir di Solo pada 22 Desember 1909; meninggal di Bandung pada 23 Februari 1970; dimakamkan di Astana Bibis Luhur, Solo. Pada zaman Belanda, karena berdarah biru, ia bisa bersekolah di MULO. Setelahnya ia mengabdikan diri sebagai guru. Ia juga mempelajari ilmu pedalangan dan menjadi dalang wayang kulit yang cukup mumpuni. Pada 1942 ia berhenti mengajar karena kemelut Perang Dunia II. Pada zaman kemerdekaan RI, ia bertransmigrasi ke Lampung dan dipercaya menjadi penilik sekolah di sana. Ia pun mendirikan SGB (Sekolah Guru Bantu) di Metro. Pada 1954 ia kembali ke Jawa dan menjadi kepala SMPN 1 Madiun, kemudian dimutasi menjadi kepala SGA (Sekolah Guru Atas) di Kebumen sampai pensiun. Di tengah kesibukannya mengajar, mendalang, dan membesarkan dua belas putra-putrinya dari dua istri, Srini dan Moekidjah, ia masih sempat meluangkan waktu untuk menulis.

→ lanjut baca

Aguk Irawan MN lahir di Lamongan, 1 April 1979. Setelah bersekolah di MA Negeri Babat, Lamongan, sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Ulum, Langitan, Tuban, ia melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, jurusan Aqidah dan Filsafat, kemudian meneruskan studinya di Institut Agama Islam Al-Aqidah, Jakarta.

→ lanjut baca

adalah penyuka warna ungu berzodiak Capricorn. Perempuan kelahiran Pontianak yang tertarik dengan segala yang misterius dan supernatural walau sebenarnya penakut ini memiliki koleksi novel yang tak pernah habis dibacanya. Ia berharap orang-orang mengenal dirinya melalui tulisan. Dan ia akan senang jika tulisannya mampu menghibur banyak orang dan kemudian mereka bermimpi bersama dirinya di dalam dunia rekaannya. Ia tinggal bersama suami dan seorang anak lelakinya. Alexia dapat dihubungi secara personal di: pequena_dee@yahoo.com.

 

 

Agus Sumbogo lahir di Kebumen pada 26 September 1957. Kecintaannya pada baca-tulis sudah tumbuh semenjak kecil, terpengaruh oleh keluarga besarnya di desa yang gemar membaca, terutama sang ayah. Lepas dari beberapa jenjang pendidikan formal, ia kemudian lebih banyak berguru kepada kehidupan. Tak terhitung peristiwa pahit-getir, jatuh-bangun, dan sakit-sembuh dialaminya dalam kehidupan, yang dihayatinya sebagai pelajaran yang penuh hikmah. Pernah menjadi orang yang terbuang dan terasing di keluarga dan masyarakatnya karena dianggap beda, mempunyai sifat aneh dan gagasan-gagasan yang tak lazim. Ia sering kali berpetualang ke berbagai pelosok Nusantara, menghayati setiap tanda dan peristiwa yang dijumpainya di perjalanan. Kesejatian, itulah hasrat utama pengembaraannya, demi mengabdi kepada kemanusiaan. Ia telah banyak membabar tulisan dalam bentuk opini, resensi, kumpulan puisi, cerpen, skenario drama, sinetron, dan film, yang tersebar di berbagai media. Ta Mbora, The Two Centuries Secret adalah novel debutnya yang dipublikasikan, hasil petualangan rohaninya selama bertahun-tahun di bumi Sumbawa.

 

Leonardo Rimba lahir di Jakarta, menamatkan pendidikan Ilmu Politik di Universitas Indonesia dan Administrasi Niaga di Pennsylvania State University. Buku pertamanya, Psikologi Tarot (ditulis bersama Audifax), menjadi panduan utama bagi ribuan pewacana tarot di seluruh Indonesia. Tarot cuma sebagian kecil dari spiritualitasnya, karena setelah itu ia merambah ke mana-mana, menggunakan berbagai macam tradisi spiritual. Dari Islam, ia mendalami Al-Hikmah. Dari Kristen, ia mengikuti kursus Alkitab, yang sebenarnya bisa membuatnya menjadi seorang penginjil, tapi ia tidak mau. Dari Hindu, ia memakai Mantra Gayatri, yang didapatnya begitu saja ketika berada dalam perjalanan untuk bersembahyang di Pura Besakih, Bali. Ia bermeditasi di segala tempat: wihara, gereja, pura, Srandil, Parangkusumo, dan Besakih. Semua tempat tiada beda baginya.

→ lanjut baca

TB Silalahi lahir di Balige, Sumatera Utara, pada 17 April 1938. Di tengah kesibukannya beraktivitas di birokrasi pemerintahan, menjadi pembicara di berbagai forum, dan sebagai utusan Presiden, ia beberapa kali menjadi sutradara, di antaranya: Operet Natal Nasional selama 13 tahun berturut-turut dari tahun 1993 s.d. 2006 di Jakarta Convention Center (JCC); pembukaan Sea Games 1997; pementasan sendratari yang melibatkan 5 ribu penari dan 5 ratus pendukung dari siswa-siswi yang berasal dari 26 SMA di Jakarta; Operet Nommensen di Stadion Teladan Medan tahun 2007 yang dihadiri lebih dari 80 ribu penonton; Operet Nommensen di Sentul City Convention (SCC), Bogor, April 2009, yang dihadiri 15 ribu penonton. Ia pun telah menulis puluhan buku mengenai birokrasi, militer, politik, sejarah, juga tentang kepemimpinan. ToBa Dreams yang saat ini ada di tangan Anda adalah novel debutnya, yang diangkat ke layar lebar.

 

 

lahir pada 27 Juni 1880 di Tuscumbia, USA. Pada tahun 1900, ia menjadi mahasiswa buta-tuli pertama di Radcliffe College. Pada tahun 1903 ia menulis The Story of My Life (Kisah Hidupku), yang segera disambut luar biasa oleh masyarakat dunia, diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa. Pada tahun 1904  ia berhasil meraih gelar diploma, sesuatu yang belum pernah diraih oleh orang seperti dirinya. Pada tahun 1913 ia berpidato di depan publik di Montclair, New Jersey. Dari sana bermula kariernya sebagai pembicara publik selama puluhan tahun, hingga perjalanan hidupnya difilmkan pada tahun 1955. Ia adalah ikon yang nyaris tak tergantikan bagi penderita cacat tubuh yang berhasil melampaui batasan-batasan raga.

 

Kurnia Effendi lahir di Tegal, 20 Oktober 1960. Menulis pertama kali untuk publik tahun 1978 melalui majalah Gadis, Aktuil, dan koran Sinar Harapan. Pada era 80-an gemar mengikuti sayembara menulis fiksi dan berhasil mengumpulkan sekitar 30 penghargaan, 8 di antaranya juara pertama.

→ lanjut baca